Bunga Jempiring

Jempiring atau Kacapiring atau Kaca Piring(Gardenia augusta) adalah perdu tahunan dari suku kopi-kopian atau Rubiaceae. Bunganya berwarna putih dan sangat harum. Tanaman juga dikenal dengan nama binomial Gardenia jasminoides yang berarti “seperti melati,” walaupun tidak ada hubungannya dengan marga Jasminum (Melati).

Di Bali, tanaman ini dikenal dengan nama jempiring dan bunganya merupakan maskot kota Denpasar.

Tinggi tanaman 1-3 meter, berasal dari Asia Timur dan banyak tumbuh di alam bebas, walaupun lebih banyak dijumpai di sekitar tempat tinggal manusia sebagai tanaman hias. Daun berbentuk bulat telur, tebal, permukaan daun berwarna hijau tua yang mengkilat.

Bunga hanya muncul sekuntum di ujung-ujung tangkai, mempunyai 6 daun mahkota walaupun sebagian kultivar mempunyai bunga ganda (daun mahkota berlapis). Bunga sewaktu baru mekar berwarna putih bersih, tapi sedikit-sedikit berubah warna menjadi krem kekuningan. Bunga berbau sangat harum sehingga sering digunakan sebagai bahan baku minyak bunga. Harum bunga yang sepintas mirip Melati banyak menarik minat serangga seperti beberapa spesies Lepidoptera dan semut.

Ada dua hal yang paling menarik dari Bunga Jempiring ini. Pertama adalah wanginya. Kedua adalah warnanya.  Bunga Jempiring memiliki ‘note’ wangi yang sangat anggun, lembut dan mewah diantara bunga bunga. Wanginya juga memiliki kedalaman rasa yang mengingatkan pada alam mimpi. Sangat flowery. Saking kuatnya wangi yang dimiliki bunga ini, bahkan hingga layupun jempiring masih tetap wangi. Sangat ideal untuk dijadikan bahan potpourri.  Sementara  warna putihnya juga sangat  anggun dan mewah seolah tak bernoda. Terlihat sangat kontras danbersih diatas daunnya yang berwarna hijau gelap. Jadi kedua hal ini, wangi dan warna telah membangun kesansangat anggun  bagi keseluruhan image bunga ini.

Buah berwarna kuning dengan daun kelopak yang masih menempel, berbentuk oval dan tidak akan retak walaupun sudah matang dan kering.Tanaman berkembang biak dengan cara stek atau cangkok.

Manfaat


Bunga merupakan komoditas bunga potong, digunakan dalam karangan bunga dan korsase. Daun bisa digunakan sebagai obat seriawan dan akarnya sebagai obat sakit gigi.
Buah mengandung crocin (salah satu jenis karotenoida) berwarna kuning cerah seperti yang terdapat pada safron. Buah yang kering merupakan bahan pewarna. Di Jepang, bahan pewarna dari Kacapiring digunakan untuk pencelupan tekstil dan pewarna kue tradisional (wagashi) dan asinan lobak (takuan).

Penjor

Umat Hindu dari jaman dahulu sampai sekarang bahkan sampai nanti dalam menghubungkan diri dengan Ida Sanghyang Widi Wasa memakai simbol-simbol. Dalam Agama Hindu simbol dikenal dengan kata niasa yaitu sebagai pengganti yang sebenarnya. Bukan agama saja yang memakai simbol, bangsa pun memakai simbol-simbol. Bentuk dan jénis simbol yang berbeda namun mempunyai fungsi yang sama.

Dalam upakara terdiri dari banyak macam material yang digunakan sebagai simbol yang penuh memiliki makna yang tinggi, dimana makna tersebut menyangkut isi alam (makrokosmos) dan isi permohonan manusia kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Untuk mencapai keseimbangan dari segala aspek kehidupan seperti Tri Hita Karana.

Masyarakat di Bali sudah tidak asing lagi dengan penjor. Masyarakat mengenal dua (2) jenis penjor, antara lain Penjor Sakral dan Penjor hiasan. Merupakan bagian dari upacara keagamaan, misalnya upacara galungan, piodalan di pura-pura. Sedangkan pepenjoran atau penjor hiasan biasanya dipergunakan saat adanya lomba desa, pesta seni dll. Pepenjoran atau penjor hiasan tidak berisi sanggah penjor, tidak adanya pala bungkah/pala gantung, porosan dll. Penjor sakral yang dipergunakan pada waktu hari raya Galungan berisi sanggah penjor, adanya pala bungkah dan pala gantung, sampiyan, lamak, jajan dll.

Definisi Penjor menurut I.B. Putu Sudarsana dimana Kata Penjor berasal dari kata “Penjor”, yang dapat diberikan arti sebagai, “Pengajum”, atau “Pengastawa”, kemudian kehilangan huruf sengau, “Ny” menjadilah kata benda sehingga menjadi kata, “Penyor” yang mengandung maksud dan pengertian, ”Sebagai Sarana Untuk Melaksanakan Pengastawa”.
Umat Hindu di Bali pada saat hari raya Galungan pada umumnya membuat penjor. Penjor Galungan ditancapkan pada Hari Selasa/Anggara wara/wuku Dungulan yang dikenal sebagai hari Penampahan Galungan yang bermakna tegaknya dharma. Penjor dipasang atau ditancapkan pada lebuh didepan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Bila rumah menghadap ke utara maka penjor ditancapkan pada sebelah timur pintu masuk pekarangan. Sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan. Bahan penjor adalah sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur/daun enau yang muda serta daun-daunan lainnya (plawa). Perlengkapan penjor Pala bungkah (umbi-umbian seperti ketela rambat), Pala Gantung (misalnya kelapa, mentimun, pisang, nanas dll), Pala Wija (seperti jagung, padi dll), jajan, serta sanggah Ardha Candra lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor digantungkan sampiyan penjor lengkap dengan porosan dan bunga. Sanggah Penjor Galungan mempergunakan Sanggah Ardha Candra yang dibuat dari bambu, dengan bentuk dasar persegi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai bentuk bulan sabit.

Tujuan pemasangan penjor adalah sebagai swadharma umat Hindu untuk mewujudkan rasa bakti dan berterima kasih kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Penjor juga sebagai tanda terima kasih manusia atas kemakmuran yang dilimpahkan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Bambu tinggi melengkung adalah gambaran dari gunung yang tertinggi sebagai tempat yang suci. Hiasan yang terdiri dari kelapa, pisang, tebu, padi, jajan dan kain adalah merupakan wakil-wakil dari seluruh tumbuh-tumbuhan dan benda sandang pangan yang dikarunia oleh Hyang Widhi Wasa.

Penjor Galungan adalah penjor yang bersifat relegius, yaitu mempunyai fungsi tertentu dalam upacara keagamaan, dan wajib dibuat lengkap dengan perlengkapan-perlengkapannya.
Dilihat dari segi bentuk penjor merupakan lambang Pertiwi dengan segala hasilnya, yang memberikan kehidupan dan keselamatan. Pertiwi atau tanah digambarkan sebagai dua ekor naga yaitu Naga Basuki dan Ananta bhoga. Selain itu juga, penjor merupakan simbol gunung, yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan. Hiasan-hiasan adalah merupakan bejenis-jenis daun seperti daun cemara, andong, paku pipid, pakis aji dll. Untuk buah-buahan mempergunakan padi, jagung, kelapa, ketela, pisang termasuk pala bungkah, pala wija dan pala gantung, serta dilengkapi dengan jajan, tebu dan uang.

Oleh karena itu, membuat sebuah penjor sehubungan dengan pelaksanaan upacara memerlukan persyaratan tertentu dalam arti tidak asal membuat saja, namun seharusnya penjor tersebut sesuai dengan ketentuan Sastra Agama, sehingga tidak berkesan hiasan saja. Sesungguhnya unsur-unsur penjor tersebut adalah merupakan symbol-simbol suci, sebagai landasan peng-aplikasian ajaran Weda, sehingga mencerminkan adanya nilai-nilai etika Agama. Unsur-unsur pada penjor merupakan simbol-simbol sebagai berikut:
– Kain putih yang terdapat pada penjor sebagai simbol kekuatan Hyang Iswara.
– Bambu sebagai simbol dan kekuatan Hyang Brahma.
– Kelapa sebagai simbol kekuatan Hyang Rudra.
– Janur sebagai simbol kekuatan Hyang Mahadewa.
– Daun-daunan (plawa) sebagai simbol kekuatan Hyang Sangkara.
– Pala bungkah, pala gantung sebagai simbol kekuatan Hyang Wisnu.
– Tebu sebagai simbol kekuatan Hyang Sambu.
– Sanggah Ardha Candra sebaga: simbol kekuatan Hyang Siwa.
– Upakara sebagai simbol kekuatan Hyang Sadha Siwa dan Parama Siwa.

Didalam Lontar “Tutur Dewi Tapini, Lamp. 26”, menyebutkan sebagai berikut :
“Ndah Ta Kita Sang Sujana Sujani, Sira Umara Yadnva, Wruha Kiteng Rumuhun, Rikedaden Dewa, Bhuta Umungguhi Ritekapi Yadnya, Dewa Mekabehan Menadya Saraning Jagat Apang Saking Dewa Mantuk Ring Widhi, Widhi Widana Ngaran Apan Sang Hyang Tri Purusa Meraga Sedaging Jagat Rat, Bhuwana Kabeh, Hyang Siwa Meraga Candra, Hyang Sadha Siwa Meraga “Windhune”, Sang Hyang Parama Siwa Nadha, Sang Hyang Iswara Maraga Martha Upaboga, Hyang Wisnu Meraga Sarwapala, Hyang Brahma Meraga Sarwa Sesanganan, Hyang Rudra Meraga Kelapa, Hyang Mahadewa Meraga Ruaning Gading, Hyang Sangkara Meraga Phalem, Hyang Sri Dewi Meraga Pari, Hyang Sambu Meraga Isepan, Hyang Mahesora Meraga Biting

(IB. PT. Sudarsana, 61; 03)

BALI DAN BANTEN

Mendalami Ajaran Yoga Dalam Upakara

Sarana upacara adalah upakara. Di Bali upakara dipopulerkan dengan istilah banten, sedangkan di India, upakara disebut wedya. Istilah wedya sebenarnya juga terdapat di dalam pustaka agama Hindu di Bali yang juga berarti banten. Upakara atau banten merupakan perwujudan dan ajaran bhakti marga dan karma marga.

Kata upakara terdiri atas dua kata yaitu upa yang berarti sekeliling atau sesuatu yang berhubungan dengan, dan kara artinya tangan. Jadi upakara berarti segala sesuatu yang dibuat oleh tangan, dengan lain perkataan suatu sarana persembahan yang berasal dan jerih payah bekerja.

Banten juga disebut wali. Maka upacara Dewa yadnya disebut juga pujawali. Kata wali mengandung pengertian: wali berarti wakil dan wali berarti kembali. Wali yang berarti wakil mengandung makna simbolis filosofis bahwa banten itu merupakan wakil daripada isi alam semesta yang diciptakan oleh Sang Hyang Widhi. Wali yang berarti kembali mengandung makna bahwa segala yang ada di alam semesta ini yang diciptakan oleh Sang Hyang Widhi dipersembahkan kembali oleh manusia kepadaNya sebgai pernyataan rasa terimakasih. Banten juga berarti bali. Bali dalam bahasa Sansekerta berarti persembahan kepada bhuta, sehingga bhuta yadnya disebut sebagai bali harana atau bali karmana.

Banten memiliki banyak jenis dan bentuk serta bermacam-macam bahan. Secara sepintas banten kelihatannya unik dan rumit. Namun apabila diselidiki secara mendalam aka dapat dipahami bahwa banten mengandung arti simbolik dan filosofis yang tinggi serta terpadu dengan seni rupadanseniriasyangmengagumkan.

Faktor seni dalam banten mempunyai arti penting karena dapat menuntun fikiran yang penuh rasa bahagia dalam menuju Hyang Widhi. Oleh karena itu faktor seni dalam keagamaan adalah positif karena berperan sebagai penunjang pelaksnaan upacara agania untuk memekarkan rasa serta meningkatkan kemantapan perasaan.

Meskipun bahan banten terdiri dan bermacam-macam, namun prinsipnya bahan banten itu terdiri dari unsur isi alam, yaitu:

1. Mataya, adalah bahan banten yang berasal dari sesuatu yang tumbuh atau tumbuh-tumbuhan seperti daun, bunga, buah dan  sebagainya.
2. Maharya, adalah bahan banten yang berasal dari sesuatu yang lahir, diwakili oleh binatang-binatang tertentu seperti kerbau, kambing, sapi dan sebagainya.
3. Mantiga, adalah bahan banten yang berasal dari yang lahir dari telor, termasuk telor itu sendiri seperti ayam, itik, angsa, telor ayam, telor itik, telor angsa dan sebagainya.
4. Logam atau datu seperti perak, tembaga, besi, mas, timah (panca datu).
5. Air atau cairan. Ada lima macam cairan atau air yang dipakai banten yaitu:
a. Air yang berasal dari jasad atau sarira, diwakili dengan empehan atau susu.
b. Air yang berasal dari buah-buahan, diwakili dengan berem.
c. Air yang berasal dari uap atau kukus diwakili dengan arak.
d. Air yang berasal dari sari bunga diwakili dengan madu
e. Air yang berasal dari tanah atau bumi diwakili oleh air hening. Kelima zat cair ini disebut panca amerta.

6. Api dalam wujud dupa dan dipa
7. Angin dalam wujud asap yang harum

Inilah isi dalam ciptaan Ida Sang Hyang Widhi yang dipersembahkan kembali kepada Beliau.
Ajaran agama Hindu meliputi sesuatu yang lahiriah dan batiniah serta dapat dilaksanakan secara individual dan kolektif. Sifat ajarannya adalah luwes dan elastis. Keluwesannya dinyatakan dengan istilah desa, kala, patra yang artinya agama Hindu dapat dilaksanakan menurut tempat waktu dan keadaan. Sifat elastis memberikan peluang pelaksanaan agama Hindu menyesuaikan diri dengan peningkatan teknologi kemajuan ilmu pengetahuan dan kemajuan jaman serta situasi ekonomi dan zaman ke zaman. Adanya sifat luwes dan elastis itu karena Weda sebagai sumber ajaran agama Hindu bersifat mengatasi ruang dan waktu.

Di dalam kaitannya dengan upakara dan upacara agama Hindu, sifat luwes dan elastis itu selain berlandaskan desa, kala dan patra, namun juga dapat dilaksanakan menurut tingkatan kanista, madya dan utama. Kanista berarti sesuatu yang menjadi prinsip di dalam upacara dan upakara itu yang harus ada. Madya adalah pengembangan dari prinsip tersebut sehingga menjadi lebih besar dari kanista. Utama adalah pengembangan dan penambahan dari madya sehingga tampak menjadi lebih besar dari tingkatan madya. Apabila yang prinsip dilaksanakan, maka upacara dan upakara itu sudah benar menurut ajaran agama Hindu. Apabila melaksanakan yang madya atau utama tetapi tidak memperhatikan yang prinsip itu, maka upacara dan upakara itu tidak mengenai sasaran yang dituju.

Ada tiga hal yang seimbang di dalam melakukan upacara atau yadnya yaitu: Upacara, upakara dan pujamantra yang digunakan oleh Pedanda dalam memimpin upacara. Apabila ketiganya tidak seimbang, maka akan terjadilah ketimpangan dalam pelaksanaan upacara agama. Selain itu harus diciptakan kemanunggalan trimanggalaning yadnya yaitu : orang yang beryadnya, wiku tapini atau tukang banten dan Pedanda yang muput upacara tersebut.

Seni budaya merupakan penunjang sarana upacara. Berbagai kesenian berperan dalam menurijang upacara seperti : seni rias yang dipancarkan oleh bentuk banten, seni suara berupa kidung kakawin atau lagu-lagu pujaan, seni tari berupa seni sakral dan seni wali, seni tabuh berupa gamelan, serta aturan busana upacara agama. Dengan adanyan seni budaya yang menunjang upakara dan upacara maka upacara tersebut menjadi begitu meriah dan memberikan rasa bahagia. Seni budaya tersebut sesungguhnya bukan seni melulu, melainkan suatu seni yang mengandung makna simbolis tertentu dan membungkus ajaran tattwa agama.

Hadirnya banten dalam tradisi Hindu di Bali sesungguhnya melewati perjalanan sejarah yang panjang. Di dalam kitab Yajur Weda dapat diketahui adanya persembahan yang dihaturkan kepada Dewa sebagai manifestasi dan Brahman berupa gandam, ksatam, puspam, dupam, dipam, toyam, gretam dan soma. Sesuai dengan namanya sendiri bahwa Yajur Weda artinya pengetahuan yang digunakan untuk persembahan. Materi persembahan dalam Yajur Weda tersebut kita lihat sekarang dalam bentuk tetandingan banten. Memang dalam kitab Yajur Weda belum disebutkan binatang sebagai persembahan.

Selanjutnya apabila kita mendalami konsepsi tantrayana yang juga berpengruh di Bali kita mengetahui adanya konsep panca tattwa terdiri atas matsya, mamsa, madhya, maithuna dan mudra. Matsya yaitu ikan, mamsa adalah daging, madhya adalah minuman, maithuna adalah penyatuan pikiran atau samyoga, dan mudra adalah sikap tangan yang mengandung kekuatan gaib. Ajaran tantra adalah ajaran yang sangat kompleks serta dalam. Pada intinya tantrayana mengajarkan suatu keharmonisan antara sekala dengan niskala atau wahya dan dhyatmika.

Di samping ajaran Weda dan Tantrayana, alam pikiran lokal juga melandasi adanya banten yang dikemas dalam simbol-simbol pengharapan manusia terhadap sesuatu. Hal ini sangat tampak dalam upacara pitra yadnya, manusa yadnya dan bhuta yadnya. Alam pikiran lokal itu ditunjang oleh berbagai kreasi imat Hindu setempat sebagai perwujudan rasa indah dalam memuja Hyang Widhi dan para arwah leluhur. Konsepsi Weda, tantrayana yang berasal dan India serta alam pikiran lokal sebagai budava ash Indonesia, ketiganya terpadu dan luluh secara harmonis menjadi satu yang diwujudkan dalam bentuk-bentuk banten sekarang. Itulah sebabnya banten di Bali memancarkan nilai keindahan penuh makna simbolis dan sangat unik. Sistem seperti itu meresapi pula kehidupan sosial budaya dan agama Hindu di Bali sehingga menciptakan suatu tatanan kehidupan masyarakat umat Hindu yang mencakup tata kemasyarakatan dan tata keagamaan.

Ketika banten disusun sedemikian rupa menjadilah ia sebuah candi banten, sekaligus sebagai sebuah persembahan. Candi banten adalah tempat mensthanakan Tuhan Yang Maha Suci, sehingga banten benar-benar dijaga kesuciannya. Bahan-bahan terpilih tidak saja bersih tapi juga suci atau sukia. Demikian juga halnya dengan proses pembuatannya. Umat Hindu khususnya kalangan wanita mempraktekkan ajaran yoga dengan pemusatan pikiran dalam membuat banten. Jadi banten dibuat tidak saja dengan proses kreatif tetapi juga dengan proses yoga dengan mengutamakan nilai-nilai kesucian. Ada pernusatan pikiran disini, dengan menggerakkan jan- jemani bagaikan sedang berjapa. Seperti itulah para tukang banten dan para wiku tapini melakukan aktifitas penuh makna kesucian, membuat banten dalam posisi bajra asana atau padma asana memusatkan pikiran kepada Sang Pencipta.

Man kita berusaha mewujudkan bhakti yoga marga dan karma yoga marga sekaligus dengan jnana yoga marga dan raja yoga marga dalarn proses membuat banten, dalam suasana yang hening, heneng dan suci. Semoga dengan demikian Ida Hyang Widhi rang Maha Suci menganugrahi kita kesucian pikiran dan kerahayuan dalam hidup ini (Diah). •

[WHD No 534 Juni 2011]

Hari Raya Nyepi dan Tahun Saka

Weda Sruti merupakan sumber dari segala sumber ajaran Hindu. Weda Sruti berasal dari Hyang Maha Suci/Tuhan Yang Maha Esa (divine origin). Mantra Weda Sruti tidak dapat dipelajari oleh sembarang orang. Karena mantra-mantranya ada yang bersifat pratyaksa (yang membahas obyek yang dapat diindra langsung oleh manusia), ada yang bersifat adhyatmika, membahas aspek kejiwaan yang suci (atma) dan ada yang bersifat paroksa, yaitu yang membahas aspek yang tidak dapat diketahui setelah disabdakan maknanya oleh Tuhan. Tingkatan isi Weda yang demikian itu menyebabkan maharsi Hindu yang telah samyajnanam membuat buku-buku untuk menyebarkan isi Weda Sruti agar mudah dicerna dan dipahami oleh setiap orang yang hendak mempelajarinya. Kitab yang merupakan penjabaran Weda Sruti ini adalah Upaveda, Vedangga, Itihasa dan Purana. Semua kitab ini tergolong tafsir (human origin).
Salah satu unsur dari kelompok kitab Vedangga adalah Jyotesha. Kitab ini disusun kira-kira 12.000 tahun sebelum masehi yang merupakan periode modern Astronomi Hindu (India). Dalam periode ini dibahas dalam lima kitab yang lebih sistimatis dan ilmiah yang disebut kitab Panca Siddhanta yaitu: Surya Siddhanta, Paitamaha Siddhanta, Wasista Siddhanta, Paulisa Siddhanta dan Romaka Siddhanta. Dari Penjelasan ringkas ini kita mendapat gambaran bahwa astronomi Hindu sudah dikenal dalam kurun waktu yang cukup tua bahkan berkembang serta mempengaruhi sistem astronomi Barat dan Timur.
Prof. Flunkett dalam bukunya Ancient Calenders and Constellations (1903) menulis bahwa Rsi Garga memberikan pelajaran kepada orang-orang Yunani tentang astronomi di abad pertama sebelum masehi. Lahirnya Tahun Saka di India jelas merupakan perwujudan dari sistem astronomi Hindu tersebut di atas.
Eksistensi Tahun Saka di India merupakan tonggak sejarah yang menutup permusuhan antar suku bangsa di India. Sebelum lahirnya Tahun Saka, suku bangsa di India dilanda permusuhan yang berkepanjangan. Adapun suku-suku bangsa tersebut antara lain: Pahlawa, Yuehchi, Yuwana, Malawa dan Saka. Suku-suku bangsa tersebut silih berganti naik tahta menundukkan suku-suku yang lain. Suku bangsa Saka benar-benar bosan dengan keadaan permusuhan itu. Arah perjuangannya kemudian dialihkan, dari perjuangan politik dan militer untuk merebut kekuasaan menjadi perjuangan kebudayaan dan kesejahteraan. Karena perjuangannya itu cukup berhasil, maka suku Bangsa Saka dan kebudayaannya benar-benar memasyarakat.
Tahun 125 SM dinasti Kushana dari suku bangsa Yuehchi memegang tampuk kekuasaan di India. Tampaknya, dinasti Kushana ini terketuk oleh perubahan arah perjuangan suku bangsa Saka yang tidak lagi haus kekuasaan itu. Kekuasaan yang dipegangnya bukan dipakai untuk menghancurkan suku bangsa lainnya, namun kekuasaan itu dipergunakan untuk merangkul semua suku-suku bangsa yang ada di India dengan mengambil puncak-puncak kebudayaan tiap-tiap suku menjadi kebudayaan kerajaan (negara).
Pada tahun 79 Masehi, Raja Kaniska I dari dinasti Kushana dan suku bangsa Yuehchi mengangkat sistem kalender Saka menjadi kalender kerajaan. Semenjak itu, bangkitlah toleransi antar suku bangsa di India untuk bersatu padu membangun masyarakat sejahtera (Dharma Siddhi Yatra). Akibat toleransi dan persatuan itu, sistem kalender Saka semakin berkembang mengikuti penyebaran agama Hindu.
Pada abad ke-4 Masehi agama Hindu telah berkembang di Indonesia Sistem penanggalan Saka pun telah berkembang pula di Indonesia. Itu dibawa oleh seorang pendeta bangsa Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujarat (India) yang mendarat di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 456 Masehi.
Demikianlah awal mula perkembangan Tahun Saka di Indonesia. Pada zaman Majapahit, Tahun Saka benar-benar telah eksis menjadi kalender kerajaan. Di Kerajaan Majapahit pada setiap bulan Caitra (Maret), Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. Di alun-alun Majapahit, berkumpu seluruh kepala desa, prajurit, para sarjana, Pendeta Siwa, Budha dan Sri Baginda Raja. Topik yang dibahas dalam pertemuan itu adalah tentang peningkatan moral masyarakat.
Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kakawin Negara Kertagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh VIII, XII, LXXXV, LXXXVI – XCII. Di Bali, perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan Hari Raya Nyepi berdasarkan petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Hari Raya Nyepi ini dirayakan pada Sasih Kesanga setiap tahun. Biasanya jatuh pada bulan Maret atau awal bulan April. Beberapa hari sebelum Nyepi, diadakan upacara Melasti atau Melis dan ini dilakukan sebelum upacara Tawur Kesanga. Upacara Tawur Kesanga ini dilangsungkan pada tilem kesanga. Keesokan harinya, pada tanggal apisan sasih kadasa dilaksanakan brata penyepian. Setelah Nyepi, dilangsungkan Ngembak Geni dan kemudian umat melaksanakan Dharma Santi.
Tujuan Hidup
Muwujudkan kesejahteraan lahir batin atau jagadhita dan moksha merupakan tujuan agama Hindu. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, umat Hindu wajib mewujudkan 4 tujuan hidup yang disebut Catur Purusartha atau Catur Warga yaitu dharma, artha, kama dan moksha. Empat tujuan hidup ini dijelaskan dalam Brahma Sutra, 228, 45 dan Sarasamuscaya 135.
Menurut agama, tujuan hidup dapat diwujudkan berdasarkan yajña. Tuhan (Prajapati), manusia (praja) dan alam (kamadhuk) adalah tiga unsur yang selalu berhubungan berdasarkan yajña. Hal ini tersirat dalam makna Bhagavadgita III, 10: manusia harus beryajña kepada Tuhan, kepada alam lingkungan dan beryajña kepada sesama. Tawur kesanga menurut petunjuk lontar Sang-hyang Aji Swamandala adalah termasuk upacara Butha Yajña. Yajña ini dilangsungkan manusia dengan tujuan membuat kesejahteraan alam lingkungan. Dalam Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan, untuk mewujudkan Catur Warga, manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita).
“Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan mâsih ring sarwa prani.”
Artinya:
Oleh karenanya, usahakanlah kesejahteraan semua makhluk, jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk.
“Apan ikang prana ngaranya, ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga, mâng dharma, artha kama moksha.”
Artinya:
Karena kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma, artha, kama dan moksha.
Di dalam Agastya Parwa ada disebutkan tentang rumusan Panca Yajña dan di antaranya dijelaskan pula tujuan Butha Yajña sbb:
“Butha Yajña namanya tawur dan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan.”
Dalam Bhagavadgita III, 14 disebutkan, karena makanan, makhluk hidup menjelma, karena hujan tumbuhlah makanan, karena persembahan (yajña) turunlah hujan, dan yajña lahir karena kerja.
Dalam kenyataannya, kita bisa melihat sendiri, binatang hidup dari tumbuh-tumbuhan, manusia mendapatkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. Dengan demikian jelaslah, tujuan Butha Yajña melestarikan lingkungan hidup, yaitu Panca Maha Butha dan sarwaprani. Upacara Butha Yajña pada tilem kasanga bertujuan memotivasi umat Hindu secara ritual untuk senantiasa melestarikan alam lingkungan.
Dalam lontar Eka Pratama dan Usana Bali disebutkan, Brahma berputra tiga orang yaitu: Sang Siwa, Sang Budha dan Sang Bujangga. Ketiga putra beliau ini diberi tugas untuk amrtista akasa, pawana, dan sarwaprani. Oleh karena itu, pada saat upacara Tawur Kesanga, upacara dipimpin oleh tiga pendeta yang disebut Tri Sadaka. Beliau menyucikan secara spiritual tiga alam ini: Bhur Loka, Bhuwah Loka dan Swah Loka. Sebelum dilaksanakan Tawur Kesanga, dilangsungkanlah upacara Melasti atau Melis. Tujuan upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swa-mandala sebagai berikut:
Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana.
Artinya: Melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan kekotoran alam.
Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah:
Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara.
Artinya: mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Ka-mandalu) di tengah-tengah samudra.
Jadi tujuan Melasti adalah untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah Samudra. Samudra adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang samudra kehi-dupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan dunia.
Pada tanggal satu sasih kadasa, dilaksanakanlah brata penye-pian. Brata penyepian ini dijelaskan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut:
“….enjangnya nyepi amati geni, tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya, ageni-geni saparanya tan wenang, kalinganya wenang sang wruh ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan.”
Artinya: “….besoknya, Nyepi, tidak menyalakan api, semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan, berapi-api dan sejenisnya juga tak boleh, karenanya orang yang tahu hakikat agama melak-sanakan samadhi tapa yoga menuju kesucian.”
Jadi, brata penyepian dilakukan dengan tidak menyalakan api dan sejenisnya, tidak bekerja terutama bagi umat kebanyakan. Sedangkan bagi mereka yang sudah tinggi rohaninya, melakukan yoga tapa dan samadhi. Parisada Hindu Dharma Indonesia telah mengembangkan menjadi catur brata penyepian untuk umat pada umumnya yaitu: amati geni, amati karya, amati lelungan dan amati lelanguan. Inilah brata penyepian yang wajib dilakukan umat Hindu pada umumnya. Sedangkan bagi umat yang telah memasuki pendidikan dan latihan yang menjurus pada kerohanian, pada saat Nyepi seyogyannya melakukan tapa, yoga, samadhi.
Tujuan utama brata penyepian adalah untuk menguasai diri, menuju kesucian hidup agar dapat melaksanakan dharma sebaik-baiknya menuju keseimbangan dharma, artha, kama dan moksha.
Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi, tetap mengandung arti dan makna yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan.
Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata “tawur” berarti mengembalikan atau membayar. Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi ke-seimbangan jiwa. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka
Menyimak sejarah lahirnya, dari merayakan Tahun Saka kita memperoleh suatu nilai kesadaran dan toleransi yang selalu dibutuhkan umat manusia di dunia ini, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Umat Hindu dalam zaman modern seka-rang ini adalah seperti berenang di lautan perbedaan. Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat. Persamaan dan perbedaan pada zaman modern ini tampak semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negatif. Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan proporsi dengan akal dan budi yang sehat. Brata penyepian adalah untuk umat yang telah meng-khususkan diri dalam bidang kerohanian. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai Nyepi dapat dijangkau oleh seluruh umat Hindu dalam segala tingkatannya. Karena agama diturunkan ke dunia bukan untuk satu lapisan masyarakat tertentu.
Pelaksanaan Upacara
Upacara Melasti dilakukan antara empat atau tiga hari sebelum Nyepi. Pelaksanaan upacara Melasti disebutkan dalam lontar Sundarigama seperti ini: “….manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata.”
Di Bali umat Hindu melaksanakan upacara Melasti dengan mengusung pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya dengan hati tulus ikhlas, tertib dan hidmat menuju samudra atau mata air lainnya yang dianggap suci. Upacara dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama menghadap laut. Setelah upacara Melasti usai dilakukan, pratima dan segala perlengkapannya diusung ke Balai Agung di Pura Desa. Sebelum Ngrupuk atau mabuu-buu, dilakukan nyejer dan selama itu umat melakukan persembahyangan.
Upacara Melasti ini jika diperhatikan identik dengan upacara Nagasankirtan di India. Dalam upacara Melasti, pratima yang merupakan lambang wahana Ida Bhatara, diusung keliling desa menuju laut dengan tujuan agar kesucian pratima itu dapat menyucikan desa. Sedang upacara Nagasankirtan di India, umat Hindu berkeliling desa, mengidungkan nama-nama Tuhan (Namas-maranam) untuk menyucikan desa yang dilaluinya.
Dalam rangkaian Nyepi di Bali, upacara yang dilakukan berda-sarkan wilayah adalah sebagai berikut: di ibukota provinsi dilaku-kan upacara tawur. Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata.
Sedangkan di masing-masing rumah tangga, upacara dilakukan di natar merajan (sanggah). Di situ umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding, segehan nasi sasah 100 tanding. Sedangkan di pintu masuk halaman rumah, dipancangkanlah sanggah cucuk (terbuat dari bambu) dan di situ umat menghaturkan banten daksina, ajuman, peras, dandanan, tumpeng ketan sesayut, penyeneng jangan-jangan serta perlengkapannya. Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah), sujang berisi arak tuak. Di bawah sanggah cucuk umat menghaturkan segehan agung asoroh, segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan tetabuhan arak, berem, tuak dan air tawar.
Setelah usai menghaturkan pecaruan, semua anggota keluarga, kecuali yang belum tanggal gigi atau semasih bayi, melakukan upacara byakala prayascita dan natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman rumah.
Upacara Bhuta Yajña di tingkat provinsi, kabupaten dan kecamatan, dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11.00 – 12.00 (kala tepet). Sedangkan di tingkat desa, banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat sandhyakala (sore hari). Upacara di tingkat rumah tangga, yaitu melakukan upacara mecaru. Setelah mecaru dilanjutkan dengan ngrupuk pada saat sandhyakala, lalu mengelilingi rumah membawa obor, menaburkan nasi tawur. Sedangkan untuk di tingkat desa dan banjar, umat mengelilingi wilayah desa atau banjar tiga kali dengan membawa obor dan alat bunyi-bunyian. Sejak tahun 1980-an, umat mengusung ogoh-ogoh yaitu patung raksasa. Ogoh-ogoh yang dibiayai dengan uang iuran warga itu kemudian dibakar. Pembakaran ogoh-ogoh ini meru-pakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala, yaitu unsur-unsur kekuatan jahat.
Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bam-bu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan, misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala.
Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan kea-manan. Selain itu, ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti, yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu.
Nah, lalu bagaimana pelaksanaan Nyepi di luar Bali? Rangkaian Hari Raya Nyepi di luar Bali dilaksanakan berdasarkan desa, kala, patra dengan tetap memperhatikan tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. Artinya, pelaksanaan Nyepi di Jakarta misalnya, jelas tidak bisa dilakukan seperti di Bali. Kalau di Bali, tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali mendapat izin khusus), namun di Jakarta hal serupa jelas tidak bisa dilakukan.
Sebagaimana telah dikemukakan, brata penyepian telah dirumuskan kembali oleh Parisada menjadi Catur Barata Penyepian yaitu:
-Amati geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Itu berarti melakukan upawasa (puasa).
– Amati karya (tidak bekerja), menyepikan indria.
– Amati lelungan (tidak bepergian).
– Amati lelanguan (tidak mencari hiburan).
Pada prinsipnya, saat Nyepi, panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi. Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Bagi umat yang memiliki kemampuan yang khusus, mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi itu.
Yang terpenting, Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau dharma. Untuk melak-sanakan Nyepi yang benar-benar spritual, yaitu dengan melakukan upawasa, mona, dhyana dan arcana.
Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam agar menjadi suci. Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya kembali suci. Mona artinya berdiam diri, tidak bicara sama sekali selama 24 jam. Dhyana, yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai keheningan. Arcana, yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksana-kan dengan niat yang kuat, tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan terpaksa. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu ikatan. Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikh-lasan.
(Sumber: Buku “Yadnya dan Bhakti” oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)

Anjing Kintamani

Anjing Kintamani adalah ras anjing yang berasal dari daerah pegunungan Kintamani, pulau Bali. Anjing yang memiliki sifat pemberani ini sudah lama mulai dibiakan sehingga dapat diakui oleh dunia internasional.

Secara fenotipe Anjing Kintamani mudah dikenal, dapat dibandingkan dengan jelas antara Anjing Kintamani dengan anjing-anjing lokal yang ada, ataupun anjing hasil persilangan antara ras yang sama maupun persilangan lainnya.

Standar fenotipe Anjing Kintamani meliputi ciri-ciri umum, sifat-sifat umum, tinggi badan hingga ke gumba, dasar pigmentasi kulit, bentuk kepala, telinga, mata, hidung, gigi, bentuk leher, bentuk badan, kaki dan ekor mempunyai kesamaan. Perbedaannya pada distribusi warna bulu dan ditetapkan pada tanggal 16 Oktober 1994. Standar ini dipakai sebagai acuan dasar pada setiap kontes anjing dan pameran Anjing Kintamani dan telah mendapat pengakuan PERKIN (Dharma.M.N. Dewa; PudjiRahardjo; Kertayadnya I.G, 1994.).

Ciri-ciri umum

Anjing ini dapat digolongkan dalam kelompok anjing pekerja dengan ukuran sedang, memiliki keseimbangan tubuh dan proporsi tubuh yang baik dengan pertulangan kuat yang dibungkus oleh otot yang kuat, sebagai anjing pegunungan memiliki bulu yang panjang (moderat) dengan warna putih spesifik, hitam atau cokelat. Pengelompokan dalam sistem FCI, anjing Kintamani masuk dalam group V karena memiliki ciri-ciri anjing spitz dan tipe primitif seperti Chow Chow, Basenji, dan Samoyed.

Sifat-sifat umum

Anjing Kintamani memiliki sifat pemberani, tangkas, waspada dan curiga yang cukup tinggi. Merupakan anjing penjaga yang cukup handal, sebagai pengabdi yang baik terhadap pemiliknya, loyal terhadap seluruh keluarga pemilik dan tidak lupa pada pemilik atau perawatnya. Anjing Kintamani (Bali) suka menyerang anjing atau hewan lain yang memasuki wilayah kekuasaannya dan juga menggaruk-garuk tanah sebagai tempat perlindungan. Pergerakannya bebas, ringan dan lentur.

Bentuk kepala

Kepala bagian atas lebar dengan dahi dan pipi datar, moncong proporsional dan kuat terhadap ukuran bentuk kepala, rahang tampak kuat dan kompak, memiliki gigi-gigi kuat dengan gerakan gigi seperti menggunting, bibir berwama hitam atau cokelat tua. Telinganya tebal, kuat, berdiri berbentuk “V” terbalik dengan ujung agak membulat. Jarak antara kedua telinga cukup lebar, panjang telinga kurang lebih sama bila dibandingkan dengan jarak antara dasar dua telinga bagian dalam dengan sudut mata luar.

Mata berbentuk lonjong seperti buah almond dengan bola mata berwarna cokelat gelap dan bulu mata berwarna putih. Hidung berwarna hitam atau coklat tua dan warna hidung ini sering berubah karena penambahan umur dan musim.

Untuk mempercepat pengakuan dari Federasi Kinologi Internasional, dalam memenuhi persyaratan perlu upaya-upaya secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu upaya adalah meneliti hubungan antara stuktur dan profil DNA distribusi warna bulu putih spesifik secara genotip dengan fenotip warna bulu putih spesifik pada Anjing Kintamani.

Distribusi warna bulu pada Anjing Kintamani dapat dikelompokkan menjadi 4 macam yaitu:

  1. Warna bulu putih sedikit kemerahan dengan warna coklat-kemerahan pada telinga, bulu di bagian belakang paha dan ujung ekornya.
  2. Warna hitam mulus atau dengan dada putih sedikit.
  3. Warna coklat muda atau cokiat tua dengan ujung moncong kehitaman, sering disebut oleh masyarakat sebagai warna Bang-bungkem.
  4. Warna dasar coklat atau coklat muda dengan garis-garis warna kehitaman, yang oleh masyarakat disebut warna poleng atau anggrek.

Tinggi dan bentuk badan

Anjing Kintamani jantan mempunyai tinggi 45 cm sampai 55 cm dan anjing betina 40 cm sampai 45 cm. Dengan warna bulu kebanyakan berwarna putih spesifik (sedikit kemerahan) dengan warna merah kecoklatan (krem) pada ujung telinga, ekor dan bulu di belakang paha. Warna lainnya adalah hitam mulus dan cokelat dengan moncong berwarna hitam (bangbungkem), pigmentasi kulit, hidung, bibir kelopak mata, skrotum, anus dan telapak kaki berwarna hitam atau cokelat gelap.

Lehernya tampak anggun dengan panjang sedang, kuat dengan perototan yang kuat pula. Dada dalam dan lebar, punggung datar, panjangnya sedang dengan otot yang baik. Badan anjing betina relatif lebih panjang dari jantan. Anjing Kintamani (Bali) memiliki bulu krah (badong) panjang berbentuk kipas di daerah gumba, makin panjang bulu badong makin baik.

Kaki agak panjang, kuat dan lurus jika dilihat dan depan atau belakang. Tumit tanpa tajir, gerakan kaki ringan. Ekor memiliki bulu yang bersurai, posisinya tegak membentuk sudut 45 derajat atau sedikit melengkung tetapi tidak jatuh atau melingkar di atas pinggang atau jatuh ke samping. Makin panjang bulu ekor makin baik .

Hari Raya Kuningan

Haywa amuja bebanten, kalangkahin tajeg
Sang Hyang Aditya asuk juga kawengania,
apan yan tajeg Sang Hyang Surya,
Dewata amoring swarga.

(Petikan Lontar Sunarigama)

Maksudnya: Janganlah mengaturkan bebanten (Kuningan) setelah lewat tengah hari. Kalau sampai lewat tengah hari maka para Dewata telah kembali ke sorga.

UMAT Hindu di Nusantara menyelenggarakan upacara Hari Raya Kuningan pada waktu pagi hari sebelum matahani tegak atau tengah hari. Mengapa demikian? Umumnya umat kebanyakan mengatakan agar jangan ketemu dengan Dewa Berung. Padahal tidak ada konsep Agama Hindu yang menyatakan bahwa Dewa itu bisa berung atau luka di badannya. Pandangan yang salah itu mungkin pada awalnya berasal dan orang yang berpengaruh tetapi tidak begitu paham akan ajaran atau petunjuk tentang perayaan Galungan dan Kuningan.

Perayaan Kuningan dilakukan pagi hari karena hari raya tersebut adalah simbol hari anugerah Tuhan atas perjuangan umat menegakkan dharma yang disimbolkan dengan prosesi perayaan Galungan. Menurut ketentuan Bhagawad Gita XVII.20 bahwa anugerah atau pemberian suci itu harus diberikan berdasarkan desa kala patra. Desa artinya berdasarkan pertimbangan aturan rokhani setempat. Kala maksudnya anugerah itu diberikan saat waktu yang disebut Satvika Kala. Patra menurut Sarasamuscaya 271 adalah orang yang sepatutnya diberikan Daana Punia (Patra ngarania sang yogia wehana dana).

Pagi adalah tergolong waktu yang disebut Satvika Kala artinya hari yang tenang dan baik melakukan pekerjaan mulia seperti memberi atau menerima Daana Punia. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa Lontar Sunarigama menentukan bahwa upacara Kuningan harus dilakukan Sebelum matahari tegak atau sebelum tengah hari. Mereka yang dapat waranugraha saat Kuningan adalah mereka yang Patra artinya mereka yang baik yang berjuang meningkatkan diri berdasarkan dharma. Mereka yang berjuang itu disimbolkan dengan menghaturkan banten Tebog atau Selanggi pada hari raya Kuningan, di samping sudah melakukan prosesi Galungan sebelumnya. Banten Tebog dan Selanggi tersebut melambangkan perjuangan ke arah yang semakin baik dan benar menuju jalan Tuhan. Perjuangan yang benar itu berdasarkan kesadaran ilmu atau inyana. Karena itu saat upacara Galungan di samping menghaturkan Banten Tumpeng Galungan juga disertai dengan Banten Guru. Banten Guru itu menggunakan tumpeng yang puncaknya menggunakan telor itik. Hewan itik itu menurut Sarasamuscaya dinyatakan sebagai hewan yang satvika atau hewan yang mampu membeda-bedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kalau itik itu diberikan makan nasi bercampur lumpur maka yang masuk ke perutnya hanyalah nasinya. Dalam Bhagawad Gita hal itu disebut wiweka jnyana. Kemampuan itu hanya dapat dicapai oleh manusia dengan belajar atau berguru. Karena itu perjuangan menegakkan dharma harusnya dengan kesadaran ilmu atau wiweka jnyana dengan berguru kerokhanian. Dharma jangan ditegakkan hanya dengan emosi dan kekuatan otot saja. Itulah makna menghaturkan Banten Guru saat Galungan.

Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru adalah simbol dimulainya prosesi memetik hasil berguru yang puncaknya diperoleh saat Hari Raya Kuningan. Pada hari Pemaridan Guru ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugerah berupa kadirgayusaan yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari mi umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara tersebut bermakna, umat menikmati waranugraha Dewata.
Canang meraka itu lambang perjuangan mendapatkan hidup sehat panjang umur, aman damai dan kesejahteraan yang adil. Hal itu sebagai wujud dharma akan dicapai hanya dengan menerapkan ilmu pengetahuan jnyana. Dalam lontar Yadnya Prakerti dinyatakan: Rakan Bcinten pinaka Widyadhara Widyadhari adalah ilmuwan sorga. Artinya buah dan jajan dengan perlengkapan banten yang disebut Rakan Banten hendaknya diperoleh berdasarkan hasil penerapan ilmu.

Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (Ienyapkanlah kekotoran pikiran). Keesokan hanmya, Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sunarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari mi hendaknya dilaksanakan pada pagi. Saat Kuningan di samping menghaturkan Banten Tebog atau Selanggi juga memasang Sampian Kuningan.. Sampian Kuningan itu ada empat jenis yaitu Tamiang, Ter, Kolem dan Edongan. Keempat Sampian Kuningan itu lambang anugerah Tuhan kepada umatnya. Tamiang lambang aneugrah penlindungan Tuhan. Ter adalah alat melontarkan panah untuk menyerang musuh. Ter mi lambang kekuatan anugerah Tuhan untuk menyerang musuh seperti Sang Kala Tiga Wisesa. Kolem lambang tempat menyimpan panah. Tm artinya lam- bang kekuatan rokhani Sebagai kekuatan untuk mengalahkan musuh. Endongan adalah lambang anugerah kesejahteraan.

Perayaan Galungan dan Kuningan ini amat sejalan tattwanya dengan Hari Raya Wijaya Dasami di India. Kata Wijaya dalam bahasa Sansekerta artinya menang. Sedangkan dalam bahasa Jawa Kuno kata Galungan dan Dungulan juga berarti menang. Karena itu Hari raya Galungan dan Hari raya Wijaya Dasami memiliki makna yang sama yaitu mengingatkan umat agar dengan kesadaran sendiri untuk menegakkan dharma agar hidup ini senantiasa “Galang Apadang”.

Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun berdasarkan perhitungan tahun Surya. Karena itu Hari Raya Wijaya Dasami dirayakan pada bulan April dan Oktober. Wijaya Dasami dirayakan sepuluh hari. Tiga hari pertama dirayakan dengan pusat pemujaan ditujukan pada Tuhan sebagai  Dewi Durhga. Tujuannya untuk menghancurkan niat buruk dan membangun niat suci. Tiga hari kedua memuja Tuhan sebagai Dewi Saraswati agar niat suci itu disertai dengan ilmu pengetahuan. Tiga hari yang ketiga memuja Tuhan sebagai Dewi Laksmi agar niat suci dan ilmu pengetahuan itu menghasilkan kesejahteraan. Hari ke sepuluh baru dirayakan dengan kemeriahan dengan fokus pemujaan Tuhan Sebagai Dewa Ganesha dan Laksmi. Ini melambangkan anugerah rasa aman dan sejahtera sebagai hasil eksistensi niat suci dan menguasai ilmu pengetahuan.

Lontar Sunarigama merupakan sumber tertulis tentang petunjuk pelaksanaan hari raya Galungan dan Kuningan. Pelaksanaan menghaturkan banten pada Kuningan disebutkan dalam Lontar Sunarigama sebagai berikut, :

“Haywa amuja bebanten kalangkahin tajeg Sang Hyang Aditya asuk juga kawengania, apan yan tajeg Sang Hyang Sunja, Dewata amoring. swarga.”
Maksudnya: Janganlah mengaturkan banten Kuningan setelah tengah hari karena Ida Bhatara telah kembali ke sorga. Namun, tidak disebutkan dengan tegas mengapa tidak boleh menghaturkan upacara Kuningan lewat tengah hari.

Di lain pihak menurut Theologi Hindu bahwa Hyang Widhi itu berada di mana-mana. Tidak ada bagian dan buana agung dan buana alit ini tanpa kehadiran Hyang Widhi. Tetapi tidak sembarang orang dapat merasakan bahwa Hyang Widhi itu berada di mana-mana, karena Beliau bersifat sangat niskala.

Umat yang masih digelapkan hatinya oleh gejolak guna rajah dan guna tamas tidak akan merasakan bahwa Hyang Widhi itu berada di mana-mana. Hari Raya Galungan dan Kuningan merupakan visualisasi penguasaan diri dengan menyatukan kekuatan rohani (jnyana) untuk mencapai jiwa yang tenang (galang apadang). Bersatunya kekuatan rohani berarti guna sattwahlah yang lebih dominan dan guna rajah. Umat yang mampu memperkuat guna sattwamnyalah yang akan merasakan adanya Hyang Widhi dengan segala waranugraha-Nya.

Dalam kitab Tattwa Jnyana 10 disebutkan:
“Bila guru sattwam bertemu dengan guna rajah, terang bercahayalah citta (pikiran). Hal itulah yang menyebabkan atman dapat datang di sorga. Karena guna sattwam yang berkehendak berbuat baik, maka guna rajah yang melaksanakan sampai berhasil kehendak guna sattwam. Hari raya Kuningan adalah puncak dari perjuangan menegakkan dharma. Pada hari raya Kuninganlah dilambangkan sebagai hari raya yang penuh waranugraha bagi yang sukses berjuang menegakkan dharma. Waranugraha Hyang Widhi itu berupa rasa aman (raksanam) dan sejahtera (dhanam). Rasa aman dan Sejahtera sebagai karunia dari Hyang Widhi itu dilambangkan dalam banten Kuningan seperti Tebog, Selanggi, Sampian Tamiang, Ten, Kolem, Endongan. Semuanya itu melambangkan suatu waranugraha dan perjuangan untuk mendapatkan rasa aman atau ketahanan diri dan kesejahteraan ekonomi. Hal seperti itu hanya akan didapatkan oleh mereka yang berhasil menyatukan guna sattwam dan guna rajah sebagaimana disebutkan dalam kitab Tattwa Jnyana tersebut.

Kalau diperhatikan mengapa banten Kuningan harus dipersembahkan pada pagi hari dan tidak boleh lewat tengah hari. Pagi hari adalah waktu yang tergolong satwika kala dan siang hari tergolong rajasika kala. Makna dari upacara Kuningan harus dihaturkan sebelum tengah hari adalah sebagai lambang karunia Hyang Widhi bagi mereka yang berhasil menyatukan kekuatan guna sattwam dan guna rajah. Mereka yang mampu menyatukan kedua guna tersebut akan mendapatkan kehidupan yang penuh berkah atau waranugraha.

Anugrah dari Tuhan layaknya daana punia bagi manusia. Dalam Bhagawad Gita daana punia itu seyogianya diberikan saat satvika kala. Waktu sore setelah matahari condong ke barat termasuk tamasika kala. Ini berarti kekuatan sattwam, rajah dan tamas seimbang. Menurut ketentuan Tattwa Jnyana maupun Wrehaspati Tattwa, kalau sattwam, rajah dan tamah kekuatannya seimbang maka atman akan mengalami samsara. Artinya, atman akan mengalami penjelmaan berulang-ulang. Hari Raya Kuningan adalah lambang hari turunnya Hyang Widhi memberikan karunia pada umatnya yang telah berhasil menegakkan dharma di buana agung dan buana alit. Perjuangan menegakkan dharma tersebut dilambangkan dengan prosesi upacara Galungan dan Sugihan sampai dengan penampahan Kuningan. Prosesi tersebut sebagai lambang upaya manusia mendekatkan diri pada Hyang Widhi dengan penuh bhakti. Sedangkan Kuningan lambang Hyang Widhi menurunkan sweca atas bhakti umatnya. Yang mendapatkan sweca hanyalah mereka yang berhasil bhaktinya menegakkan dharma. Kalau melakukan upacara yadnya seperti sembahyang sore tidak dalam rangkà hari raya Kuningan tentunya sangat baik. Karena sembahyang sore bertujuan untuk meredam gejolak guna tamah, sembahyang siang untuk meredam dan mendekatkan guna rajah pada guna sattwam. Sedangkan sembahyang pagi untuk memperkuat guna sattwam, agar dapat menguasai guna rajah sebagaimana disebutkan dalam kitab Tattwa Jnyana dan Wrehaspati Tattwa. Karena itulah pada saat Galungan upacara boleh dipersembahkan sampai sore karena tujuan Galungan menyeimbangkan secara struktural Tri Guna itu agar sattwam dan rajah menguasai tamas.

Banten Kuningan adalah lambang perjuangan dan anugerah Hyang Widhi. Banten Tebog atau yang bentuknya kecil disebut Selanggi lambang perjuangan untuk terus-menerus meningkatkan kualitas diri di jalan dharma sebagai upaya manusia memperbaiki hidupnya. Sedangkan Sampian Kuningan seperti Tamiang, Ter, Kolem. Endongan adalah lambang waranugraha Hyang Widhi. Anugerah itu berupa raksanam dan dhanam sebagaimana dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra, 1.89. Raksanam artinya rasa aman dilambangkan oleh Sampian Tamiang, Ter dan Kolem. Sedangkan dhanam artinya sejahtera dilambangkan oleh sampian Endongan. Raksanam dan dhanam ini akan diperoleh anugrahnya dari Hyang Widhi saat satwika kala bagi mereka yang sukses mengendalikan Tri gunanya yaitu guna sattwam dan rajah menguatkan citta atau alam pikiran.

(sumber: http://www.parisada.org/index)

Jalak Bali

Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) adalah sejenis burung pengicau berukuran sedang, dengan panjang lebih kurang 25cm, dari suku Sturnidae. Jalak Bali memiliki ciri-ciri khusus, di antaranya memiliki bulu yang putih di seluruh tubuhnya kecuali pada ujung ekor dan sayapnya yang berwarna hitam. Bagian pipi yang tidak ditumbuhi bulu, berwarna biru cerah dan kaki yang berwarna keabu-abuan. Burung jantan dan betina serupa.

Endemik Indonesia, Jalak Bali hanya ditemukan di hutan bagian barat Pulau Bali. Burung ini juga merupakan satu-satunya spesies endemik Bali dan pada tahun 1991 dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali. Keberadaan hewan endemik ini dilindungi undang-undang.

Jalak Bali ditemukan pertama kali pada tahun 1910. Nama ilmiah Jalak Bali dinamakan menurut pakar hewan berkebangsaan Inggris, Walter Rothschild, sebagai orang pertama yang mendeskripsikan spesies ini ke dunia pengetahuan pada tahun 1912.

Karena penampilannya yJalak Bali di Kebun Binatang Brookfieldang indah dan elok, jalak Bali menjadi salah satu burung yang paling diminati oleh para kolektor dan pemelihara burung. Penangkapan liar, hilangnya habitat hutan, serta daerah burung ini ditemukan sangat terbatas menyebabkan populasi burung ini cepat menyusut dan terancam punah dalam waktu singkat. Untuk mencegah hal ini sampai terjadi, sebagian besar kebun binatang di seluruh dunia menjalankan program penangkaran jalak Bali.

Jalak Bali dinilai statusnya sebagai kritis di dalam IUCN Red List serta didaftarkan dalam CITES Appendix I.

Sapi Bali

Sapi Bali merupakan sapi keturunan Bos sondaicus (Bos Banteng) yang berhasil dijinakkan dan mengalami perkembangan pesat di Pulau Bali. Sapi Bali asli mempunyai bentuk dan karakteristik sama dengan banteng. Sapi Bali termasuk sapi dwiguna (kerja dan potong).
Sapi bali terkenal karena keunikan dan keunggulannya  di banding sapi jenis lain. Sapi Bali mempunyai sapi yang memiliki banyak sifat unggul diantaranya reproduksi sangat baik, cepat beranak, mudah beradaptasi dengan lingkungannya, tahan terhadap penyakit, dapat hidup di lahan kritis, memiliki daya cerna yang baik terhadap pakan dan persentase karkas yang tinggi. Tidak heran bila Sapi Bali merupakan jenis sapi terbaik diantara sapi-sapi yang ada di dunia.
Dengan introduksi teknik rekayasa pembibitan dan budidaya, Indonesia mulai berswasembada beras dan berencana mengekspornya tahun depan. Prestasi ini memicu perlakuan sama untuk peternakan sapi. Target Indonesia berswasembada daging ternak ini dalam lima tahun mendatang.
Sejak lama Indonesia menghadapi defisit daging sapi. Kebutuhan komoditas pangan ini belum dapat dipenuhi oleh produksi daging sapi dalam negeri sehingga impor daging sapi atau sapi bakalan masih dilakukan. Pada tahun 2007, impor daging sapi dari berbagai negara mencapai 270.000 ton dan cenderung terus meningkat. Hingga tahun 2015 dengan penduduk mencapai 253 juta jiwa diperkirakan defisit daging sapi hampir 334.000 ton.
Untuk itu pemerintah mulai melirik sapi bali sebagai sapi lokal unggulan. Menurut Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman ketika berkunjung ke Agro Techno Park (ATP) Jembrana dan Nusa Penida, Bali, pekan lalu, budidaya sapi bali dengan teknik peternakan modern memungkinkan Indonesia berswasembada sapi dalam lima tahun mendatang.
Sapi bali terpilih untuk program nasional pengembangan peternakan sapi potong karena memiliki beberapa kelebihan. Sapi yang hidup di Pulau Dewata dan Nusa Penida dikenal sebagai sapi bali murni. Kemurnian genetikanya telah dilindungi dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2004 dan Perda No 2/2003 yang melarang bibit sapi bali betina keluar dari wilayah provinsi ini.
Khusus sapi bali Nusa Penida, selain bebas empat macam penyakit, yaitu jembrana, penyakit mulut dan kuku, antraks, serta MCF, juga tinggi tingkat reproduksi dan kualitas dagingnya. Sapi Nusa Penida juga menghasilkan vaksin penyakit jembrana.
Saat ini, rasio populasi sapi bali di Nusa Penida antara betina dan jantan tergolong ideal dijadikan pusat pengembangan sapi, yaitu 2,4: 1 pada tahun 2006—menurut data Dinas Peternakan Bali. Nusa Penida ditetapkan sebagai kawasan Konservasi Sapi Bali.
Pengembangan sapi bali di Nusa Penida diusulkan oleh Sentana Putra, pakar teknologi peternakan dari Universitas Udayana (Unud). Potensi sebagai pusat konservasi dan pengembangan sapi Bali dirumuskan tahun 2000 dan 2005 melalui pengkajian peneliti dari Unud dan Pemkab Klungkung dan Pemprov Bali.
Pengembangan Nusa Penida sebagai daerah pengembangan sapi bali terbuka dengan kesepakatan Pemprov Bali dan pemerintah pusat untuk membangun fasilitas pelabuhan, penyediaan kapal roro, pembangkit listrik dan pompa air, dan mesin pengolah biji jarak.
Menurut riset peneliti dari Unud, lokasi yang layak dijadikan kawasan pusat konservasi dan pengembangbiakan sapi adalah Bukit Mundi, Desa Klumpu—10 hektar. Di sana dilakukan produksi semen beku, pemuliaan bibit, penggemukan, pemantauan penyakit, penanaman pakan, pabrik mini untuk formulasikan dan memproduksi ransum ternak, pengolahan limbah peternakan menjadi gas bio dan pupuk organik.

SALAK FRUIT BALI

One of the local genius of Bali is a palm like plant called Salak which grows well in the area of Sibetan, Nongan and Batusesa village which are close to interesting places for tourist such as Candidasa Beach and Besakih Temple. Candidasa has been developed into accommodation centers where can be found various hotels and bungalows. Salak is one of tropical plantation that can produce round to conical fruits shape. The fruits are in a bunch of 10 to 20 pieces. During the fruits season one tree can give 3 to 5 bunches. The skin of fruit consist of overlapping brown conical to triangle scales with delicious white meat and one seed inside. The family name of this plantation is Arecaceae, the Indonesian name is Salak which is in English called Snake fruit due to its hard skin looks like snake skin pattern and the species name is Salacca Edulis. Salak is one of Indonesian original fruits and it also grows it in Thailand.
Why it is called “SNAKEFRUITS”? Because the fruit covered by brown scales look like snake skin pattern with thorns. For well mature fruits, the thorn itself will come off easily but when the fruit is still young the thorns glue on the scale strongly for natural protection. It is prohibited to touch young fruit directly by hand as the thorns are sharp and may injure easily. It is very easy to identify when the fruit well mature, by just seeing from the thorns, colour and fruit smell. Good fruits are ready to be harvested if the thorns have come off, and the color changed from brown to yellowish, and radiating nice smell.
Specific Character Salak is palm family that have leaves’ shape the same as coconut trees, but the trunk itself could not grow up as high as the other palm family. It only reaches 1 meters height from the land and if any strong wind blowing, the main trunk will fall down to the land again. The good fruits are usually produced when the trunk reaches between 10 upto 20cms length.
The fruit and leave holder are covered by thorns, so during harvesting time, the farmer has to be extra careful to take out the ripe fruit from its trunk. One who do not use to walk among Salak plantations is not allowed to do so, as it is very dangerous if the thorns are unintentionally touched it can easily tear the skin or even deep injury. If the thorns do not penetrate deep, its can be taken out by using safety pin but in case the thorn number are too much they must be brought to the doctor to get assistance and event the operation if necessary. Don’t try to walk if you don’t have an experience or self-confident to do it.

Land Requirements
Good land for growing this species (Salacca Edulis) must qualify the following conditions :
Highland between 700 up to 1000 above sea level Sunshine between 50-70%. Temperature between 18 – 25 degrees Celcius Soil pH between 5-7 Enough water circulation Terraced land is the best to grow these Salak plantations. Land get circulation of the wind also add good factor for well growing. In Bali there is plenty of land still suitable for growing salak, with fastest production time of around 4 years after planting with good care.

Quality Classification In Indonesia, we have three famous variations of the fruits based on the area of growing :
* Salak Pondoh grows in Yogyakarta. The fruits are very famous in Java and is exported to another country. The price per 1 Kg is around Rp 5000,-at the farmer (producer).
* Salak Manonjaya grows in Tasik Malaya, exactly at Manonjaya district, central Java. The fruits are only consumed by local people and sold locally around Java island. The price per 1 kg is around Rp 4000, at the farmer.
* Salak Bali, the famous one is Salak Gula Pasir ( White Sugar Salak ) which is planted at eastern part of Bali, exactly from Sibetan village to Rendang village, Kabupaten Karangasem.
The plantation grows well here as all those villages are located between 800 – 1000 above sea level and also the land at these areas is very fertile after Mount Agung Eruption in 1963. The lava of eruption has made the land become fertile. The wind circulation is consistent which results good quality fruits. Good Salak Bali is only produced in Karangasem Regency and become main products compared to other agricultural products. Sibetan village has the most popular fashion fruits of this kind in Indonesia. If one visit Bali, Salak is the first choice for souvenir , although it is actually intra-insular trading of this fruit is already well established especially shipment from Bali to big cities in Java, Kalimantan, Sulawesi and East Nusa Tenggara. Since a decade, Salak is also a commodity for export especially to Singapore. The demand is big, but the quality required can not meet the growing need. Without special preservation the fruit under normal climate in tropical country like Bali can stay for 2 weeks, while under temperature of 10 degree Celcius can stay for 3 weeks and in a freezer can stay for 1 month or more.

Harvesting Time
The main harvesting time will be every six month. The farmer can harvest it’s fruits, exactly during rainy seasons in December, January, February, March to April every year. The best harvesting time will be falling in January to February. Each bunch of fruits consist of two or three fruit holders and have the weight around 2,5 to 3 KGS.

Marketing
Normally the buyer come directly to the farmers or their land to negotiate the price. Some time, they can get better price in the farmer directly compared to buying from wholesaler, but with this way actually the end-costs will be higher compared to buy from local wholesaler, since the cost of labor in harvesting, transporting from the land to the nearer truck parking, sorting, and others. Normally the labor coming from other areas, in this case they will use this as their bargaining power get higher pay. It will be quiet different if they are asked by local people to work, they will not play the costs, since it is like a contract that everyday and everyone know what will be the costs if local people employ other people for hourly, half day or full day. For the big buyer, it is suggested to deal with local collector at the first hand producer or Koperasi Petani (Farmer Co-operation) to get better price and also the quality of the fruits more fresh if the buyer want to resell it again to another island or exporting to another country such as Singapore, Malaysia, Australia and etc. So that the buyer only needs the costs of packing and transporting from the village to the staffing place or consolidating place with other consignments.

Packaging
For export quality, we have to select the fruits first into 3 categories :
* Class A, diameter of the fruits around 5-6 cms
* Class B, diameter of the fruits around 4-5 cms
* Class C, diameter of the fruits around 3-4 cms
For export, the best one in Class A, and Class B for intra-insular and Class C normally sold locally to be processed into fresh juice drink and if using high technology the fruit itself can produce wine the same like the other fruits such us : grave, apple and other. In developing country, like Indonesia the problem of this processing is the availability of suitable technology. Therefore, we believe that gradually in the future we can produce the Salak Wine because the fruit itself containing high glucose that is good element for fermentation process. Wine with high alcoholic percentage can be produced from this type of fruit. This is a great opportunity if any one want to invest in producing salak wine, a big market is waiting in Bali only as the tourism destination, while during harvesting time of salaks there are so many, around 2% of total harvest were thrown by the farmer since it is only Class C and lower. This Class C has the same taste, but the only size is the smallest. When I spoke with wholesaler in Karangasem how they pack this fruit before sending to another island, I got information as below : In dry condition, the fruit can stay at least 2 weeks. Enough wind circulation in the packing boxes. The good boxes are made from Bambu basket local name is Keranjang Bambu.  Banana leafs used for wrapping fruits to avoid any damage during shipment, any cushioning system is possible, depending on materials availability.

Ekowisata di Bali

Pariwisata adalah penggerak utama ekonomi Bali. Sayangnya, warga lokal seringkali hanya menjadi penonton dalam pariwisata. Pertanian pun harus mengalah pada tuntutan pembangunan pariwisata di Bali. Saluran irigasi ditutup untuk membangun jalan. Sawah dijual untuk membangun hotel.

Empat desa di Bali yang sebelumnya terpinggirkan oleh pariwisata kemudian membentuk jaringan bersama bernama Jaringan Ekowisata Desa (JED). Selain mendistribusikan pemasaran hasil pertanian masing-masing desa, jaringan ini juga menjadi alternatif bagi pariwisata masal (mass tourism) Bali. Lebih dari itu, JED juga menjadi upaya untuk memiliki kembali Bali yang terlalu banyak dieksploitasi atas nama pariwisata.

Empat Desa yang Tersingkir
JED berawal dari rasa iri terhadap gemerlap pariwisata yang lebih banyak ada di Bali selatan seperti Badung, Denpasar, dan Gianyar. Desa-desa di pinggiran Bali, termasuk Tenganan, Pelaga, Sibetan, dan Nusa Ceningan hanya mendapat rempah atau bahkan tidak kebagian kue besar keuntungan pariwisata tersebut. Bahkan, bisa dikatakan mereka tersingkir oleh pariwisata itu sendiri. Sejak tahun ‘30-an, Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, sudah menjadi salah satu tujuan wisata di Bali. Desa di Bali Timur ini memiliki kekayaan budaya berupa tradisi yang tidak ditemukan di daerah lain di Bali. Misalnya tata ruang desa dan kain tenun.
Karena desa adalah ruang publik, maka setiap orang dapat ke sana, termasuk turis-turis asing yang dibawa agen perjalanan wisata. Sayangnya meski banyak turis berkunjung, warga setempat tidak mendapat manfaat langsung terutama dari sisi ekonomi.

Ekowisata, Mengawinkan Pariwisata dan Pertanian
Penduduk Tenganan yang sebagian besar petani tahu bahwa tiap turis asing yang datang ke Tenganan
membayar sampai 100 dolar AS (sekitar Rp 1 juta) ke agen perjalanan wisata. Namun uang yang masuk ke desa tidak lebih dari Rp 35.000 per turis. Ini praktik yang sangat tidak adil.
Sampai akhirnya, penduduk setempat tidak tahan lagi ketika serombongan turis asing dan pemandunya
meninggalkan bekas makanan di pelataran pura desa dalam kondisi berantakan, usai melakukan treking.
Penduduk setempat mulai berpikir untuk mengubah kondisi dengan cara terlibat langsung dalam pariwisata. Selain untuk mendapat manfaat ekonomi lebih besar, penduduk setempat juga bisa menjaga lingkungan mereka sendiri.
Masalah yang berbeda terjadi di tiga desa lain. Petani kopi di Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten
Badung seringkali iri dengan keberhasilan pariwisata di Badung Selatan. Penduduk setempat merasa gemerlap pariwisata hanya dinikmati warga Kuta, Nusa Dua, Denpasar, dan sekitarnya. Pemerintah Kabupaten Badung sudah berusaha mengurangi kesenjangan ini dengan membuat proyek agrowisata di Badung Utara seperti Desa Pelaga dan sekitarnya. Namun proyek ini tidak banyak melibatkan warga setempat. Akhirnya, warga setempat hanya menjadi obyek dan agrowisata itu tidak berjalan baik. Namun, warga masih tetap ingin menikmati manfaat ekonomi dari pariwisata namun dengan tetap mengendalikan sepenuhnya sumber daya yang mereka miliki.
Petani salak di Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem tidak jauh berbeda dengan petani kopi Pelaga. Mereka juga ingin mendapat tempat di antara gemerlap pariwisata. Dibanding tiga desa tersebut, pengalaman Desa Nusa Ceningan mungkin paling mengenaskan. Pulau kecil di Bali Tenggara ini akan dijadikan kawasan wisata terpadu seperti Nusa Dua yang dikelola Bali Tourism Development Centre (BTDC). Proyek tahun 1999 ini memaksa warga setempat untuk menjual tanahnya. Masyarakat pun menolak karena tidak mau pindah dari tempat di mana sebagian besar dari mereka bertani rumput laut.

Menyatukan Persoalan, Berbagi Peran
Empat desa itu, Tenganan, Pelaga, Sibetan, dan Ceningan dipertemukan oleh Yayasan Wisnu, Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) di bidang pemberdayaan masyarakat lokal. Tujuannya agar masyarakat mampu menggunakan sumber daya yang mereka miliki sendiri. Tahun 2000, Wisnu memberikan pelatihan kemampuan pemetaan (mapping) agar warga empat desa itu memiliki pengetahuan tentang sumber daya desanya.
Dari situ terlihat bahwa selain potensi wisata seperti daerah lain di Bali, masing-masing desa juga punya potensi yang bisa lebih didayagunakan. Tenganan punya padi. Ceningan punya rumput laut. Pelaga punya kopi. Sibetan punya salak. Semua sumber daya itu bisa dioptimalkan untuk menunjang pariwisata, penggerak utama roda ekonomi di Bali (sekitar 80 persen).
Setelah tahu potensi desa masing-masing, warga lalu belajar tentang ekowisata, karena bagaimanapun Bali tidak bisa dilepaskan dari pariwisata. Tapi kali ini warga tidak hanya belajar tentang bagaimana menyuplai hasil pertanian ke pusat-pusat pariwisata. Mereka juga belajar bagaimana mengelola sumber daya mereka sendiri tanpa harus tergantung pihak lain. Maka, tidak hanya belajar soal memproduksi komoditas unggulan seperti salak, kopi, padi, dan rumput laut. Mereka juga membuat sendiri jalur distribusi hasil pertanian tersebut.
Sebelumnya masing-masing desa sudah memiliki koperasi simpan pinjam. Setelah inisiatif JED, koperasi di masing-masing desa bergabung dan membentuk koperasi baru (koperasi sekunder) pada 4 Juni 2002. Koperasi yang dinamai Jaringan Ekowisata Desa (JED) ini punya dua program utama yaitu distribusi hasil pertanian dan ekowisata itu sendiri.

Distribusi Barang
Tujuan program ini adalah mendukung kerja sama antar empat desa tersebut melalui jaringan pemasaran produk pertanian. Tiga desa lain menjadi pangsa pasar produk utama desa tertentu. Misalnya Desa Tenganan menyuplai beras ke Pelaga, Sibetan, dan Nusa Ceningan. Tapi sebaliknya, Tenganan juga membeli kopi dari Pelaga, salak dari Sibetan, dan rumput laut dari Nusa Ceningan. Akibat manajemen yang kurang bagus, distribusi ini kurang berjalan baik bahkan meninggalkan hutang di koperasi. Namun saat ini, hutang tersebut sudah diputihkan karena toh, pengelolanya juga anggota JED sendiri. Distribusi pemasaran hasil pertanian di masingmasing desa saat ini sudah berhenti karena alasan tersebut.

Ekowisata
Awalnya program ini kurang berjalan karena program distribusi barang lebih diutamakan. Apalagi staf yang
terlibat juga sangat terbatas, hanya ada dua orang untuk mengurusi empat desa. Sejak tahun 2005 lalu, program ekowisata kembali berjalan dengan mengadakan promosi dan pelatihan untuk petani terkait ekowisata.
Berbeda dengan pariwisata masal yang menitikberatkan pada kuantitas pengunjung, ekowisata bersandar pada empat hal yaitu komunitas, pendidikan, budaya, dan lingkungan. Empat hal yang harus berjalan secara seimbang tersebut adalah :
(1) komunitas setempat harus terlibat sejak penyusunan hingga evaluasi wisata;
(2) wisata ini harus menjadi media belajar bagi turis maupun pengelolanya;
(3) budaya setempat harus diberi tempat agar tetap bertahan di tengah derasnya budaya lain; serta
(4) kegiatan wisata ini harus memperhatikan kelestarian lingkungan.
Satu contoh adalah keterlibatan petani di masingmasing desa. Mereka sendiri yang melakukan pemetaan,
perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi. Kalau ada turis berkunjung ke satu desa, maka warga lokal yang menjadi pemandu, bukan karyawan agen perjalanan wisata. Demi menjaga lingkungan, desa juga membatasi jumlah pengunjung yang datang. Tiap lokasi tidak boleh menerima lebih dari 10 orang per hari. Tujuannya agar aktivitas pariwisata tidak sampai merusak lingkungan yang dikunjungi.
Agar aktivitas pariwisata tidak membuat petani melupakan pertanian, maka kegiatan turis ketika berkunjung ke desa adalah terlibat langsung dalam kegiatan pertanian. Misalnya turis itu melihat proses
produksi wine di Sibetan, memetik kopi di Pelaga, atau memanen rumput laut di Nusa Ceningan. Peminat ekowisata jauh lebih kecil dibanding jenis pariwisata masal lain. Tapi dua tahun terakhir grafik jumlah pengunjung terus meningkat. Jumlah pengunjung ini berbeda-beda di tiap desa. Misalnya di Sibetan, dalam kurun waktu enam bulan hanya ada 18 pengunjung. Tapi di Pelaga mencapai 112 orang dalam kurun waktu yang sama. Perbedaan jumlah pengunjung ini karena paket ekowisata JED memungkinkan turis untuk memilih, datang ke satu desa, dua desa, atau seluruh desa. Harganya berbeda-beda tergantung lokasi desa, antara Rp 495.000 sampai Rp 1.170.000. Harga itu untuk dua orang ke satu desa. Harga tersebut ditentukan warga desa di mana 75 persen masuk ke kas koperasi desa. Sisanya ke operasional JED, yang juga dimiliki warga desa melalui koperasi sekunder. Karena itu, warga bisa menjadi pelaku sekaligus penikmat pariwisata ini meski hasilnya tidak sebesar pariwisata masal. Hal yang paling penting, petani tidak tercabut dari akarnya untuk mendapatkan manisnya kue pariwisata.
Di sisi lain, petani malah bisa meningkatkan kapasitas mereka. Misalnya petani di Sibetan belajar tentang
pengolahan wine. Pemuda di masing-masing desa juga belajar lebih banyak tentang tata cara menjamu turis sampai mengenal potensi kuliner masing-masing desa. Setelah berjalan selama enam tahun, JED makin memperlihatkan posisinya sebagai sebuah alternatif bagi pembangunan pariwisata Bali. Hasil paling jelas, petani setempat kini tidak perlu lagi iri pada kawasan lain yang maju pariwisatanya. “Sampai saat ini saya selalu bersyukur, karena memutuskan kembali ke desa. Walaupun tidak banyak uang, tetapi dada dan kepala saya hampir tidak pernah sesak lagi. Saya makin bersyukur ketika memutuskan untuk selalu belajar mengenal desa saya sendiri. Saya tetap menjadi petani dan juga bisa menjadi pemandu wisata,” kata I Gede Wiratha, petani di Kiadan Pelaga yang pernah menjadi pemandu wisata sebelum kemudian kembali ke desa menjadi petani.
Inilah hasil lain yang diperoleh JED. Anak-anak muda kini tidak lagi tergiur glamornya pariwisata. Mereka
tetap bangga dengan apa yang mereka miliki. Petani tidak terpinggirkan karena adanya pariwisata berbasis komunitas, budaya, lingkungan, dan pendidikan ini.

Oleh : I Gede Astana Jaya