Antara Pedagang Kecil di Pasar Seni Sukawati Vs Supermarket

Pasar Seni Sukawati adalah salah satu alternatif tempat belanja yang murah dan lengkap di kabupaten Gianyar. Disana di jual berbagai macam kerajinan seperti patung-patung, lukisan, tas, dompet, payung, sandal dan berbagai macam barang kerajinan seni lainnya. Pasar seni Sukawati terletak di desa Sukawati Kecamatan Sukawati, Gianyar Bali sekitar 10 Km dari pusat Kota Denpasar.

Pasar ini menjual berbagai kerajinan seni khas Bali seperti sandal manik-manik, pakaian, tas, lukisan, patung kayu dan lain – lain.  Pasar ini berdiri sekitar tahun 1980an dan dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga pukul 18.00 WITA.  Dipasar ini kita bisa melakukan transaksi selayaknya pasar, dimana tawar menawar harga akan terjadi dan pembeli harus pandai untuk memberikan harga tawaran yang serendah mungkin.  Dan seringkali proses tawar menawar ini menjadi sangat menarik bagi wisatawan asing maupun lokal yang menyaksikannya.

Permasalahan terjadi ketika ternyata memang banyak para pedagang acung/ atau pedagang asongan yang menawarkan barang dagangannya dengan tidak tertib dan terkesan memaksakan.  Mereka biasanya berada diluar lingkup asosiasi pedagang yang resmi di Pasar Seni Sukawati.  Mereka bisa sangat mengganggu dengan mengikuti para pembeli yang mungkin sekedar melirik saja.  Hal ini tentu saja menjadi masalah yang sangat mengganggu kenyamanan para pembeli.  Terkadang penertiban oleh pemerintah daerah terkesan seadanya tanpa mampu mencegah keberadaan pedagang acung ini.

Sementara itu banyak bermunculan toko bahkan supermarket yang menjual barang kerajinan khas Bali yang bermunculan di dalam kota Denpasar dan Badung.  Mereka menawarkan konsep berbelanja dengan self service dimana pembeli tinggal memilih barang yang dipajang dengan harga pas dan lansung membayar dikasir.  Begitu mudah dengan sistem belanja satu tempat dimana pihak supermarket menyediakan segala jenis barang kerajinan pada satu tempat.  Konsep ini mampu meraup keuntungan yang sangat besar terbukti bahwa jenis Supermarket ini begitu menjamur dengan posisi yang sangat berdekatan di beberapa areal pariwisata seperti daerah Kuta dan Legian.

Keberadaan Supermarket ini tentunya akan menjadi masalah bagi pasar-pasar seni tradisional di Sukawati dan beberapa lainnya. Bagikan hidup segan mati tak mau. Pepatah usang itu tampaknya sangat tepat untuk menggambarkan kesulitan hidup yang membelit para pedagang yang mengais rezeki di Pasar Sukawati dan beberapa pasar tradisional lainnya. Komunitas pedagang di pasar seni yang lokasinya berhadapan dengan Pasar Badung ini tidak hanya sebatas mengeluh, tetapi sudah menjerit karena selama bertahun-tahun mengalami ”paceklik” pembeli.
Mereka menuding serbuan pasar oleh-oleh yang tumbuh bak jamur di musim hujan menjadi faktor utama yang membuat sumber pendapatan mereka terguncang. Di satu sisi, belum ada langkah nyata dari para pengambil kebijakan di Bali untuk menghentikan ekspansi para pemilik modal besar yang makin menggurita tersebut kendati sudah nyata-nyata mendorong para pedagang kecil ke jurang kebangkrutan. Jika pemimpin Bali tidak cepat bertindak dengan mengeluarkan regulasi yang benar-benar berpihak kepada pedagang kecil, bisa dipastikan eksistensi pasar seni yang sebenarnya sempat jadi ikon Bali akan tinggal nama.

Apakah pasar seni tradisional seperti Sukawati, Guwang, Kumbasari akan menghilang dari Bali, tergeser oleh keberadaan Supermarket Besar yang mengusung konsep praktis.  Tentunya dengan hati nurani kita bisa menilai betapa banyak rakyat kecil yang akan kehilangan lapangan pekerjaan di tanah Bali ini.

Setya Budhi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: