Kemacetan di Bali

Tidak hanya di Jakarta, kini Bali juga macet parah. Bertambahnya jumlah kendaraan di kawasan terpadat Denpasar dan Badung terutama di kawasan Kuta sebagai andalan pariwisata Bali,  dianggap sebagai biang keladi dari kemacetan.

Menurut Gubernur Provinsi Bali Made Mangku Pastika, pertumbuhan ekonomi di dua kota penopang perekonomian Bali tersebut tidak diiringi dengan perkembangan infrastruktur jalan.

Dalam setiap tahunnya, jumlah kendaran yang melalui simpang Dewaruci mencapai 74.625 unit per hari, dengan dominasi kendaraan roda dua. Persimpangan ini terletak di Kabupaten Badung yang menghubungkan area wisata ternama di Bali, yaitu Kuta, Seminyak, Nusa Dua, dan Bandar Udara Ngurah Rai.

Kemacetan akut bukan hanya menjadi permasalahan Jakarta, tapi juga Bali, destinasi wisata unggulan Indonesia yang namanya termahsyur di dunia. Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, bahkan memprediksi tak lama lagi lalu lintas Pulau Dewata tak bisa bergerak.

“Saya prediksi 2015 Bali sudah macet total. Ini harus segera dipecahkan. Dan, Pemprov Bali sudah melakukan koordinasi ke pusat membicarakan masalah ini,” kata Gamawan di Kantor Gubernur Bali, Senin 2 Juli 2012.

Gamawan lantas mencontohkan beberapa titik macet di Bali. Salah satunya jalan sekitar Bandara Ngurah Rai. “Perjalanan dari Bandara Ngurah Rai menuju Denpasar yang biasanya bisa ditempuh hanya setengah jam saja, lantaran macet parah itu, bisa mencapai 1,5 jam,” kata dia.

Juga kemacetan parah di depan pusat pusat produsen kaos ternama asal Bali. Akibat banyaknya bus yang parkir di pinggir jalan. “Jumlahnya bisa mencapai 80 unit. Ini juga macetnya minta ampun,” ujar Gamawan.

Sebagai Mendagri, Gamawan bersama menteri terkait lainnya mengaku ikut memikirkan persoalan Bali, terutama masalah infrastruktur. Ini sudah menjadi isu nasional. “Mudah-mudahan solusinya bisa kita pecahkan bersama,” tukas Gamawan.

Ia mengaku dalam beberapa rapat kabinet terbatas, Gubenur Bali, Made Mangku Pastika, secara khusus sengaja diundang untuk menjelaskan berbagai hal soal Bali. Dan, salah satunya adalah soal kemacetan. Penjelasan ini mendapat respon dari pemerintah pusat. Diharapkan dalam beberapa tahun ke depan, kemacetan di Bali segera teratasi dengan perbaikan infrastruktur yang memadai.

Masalah macet di Bali sebelumnya pernah diulas dalam artikel Majalah Time yang menghebohkan. Time menyebut berlibur di Bali seperti di neraka. Sampah menggunung, limbah yang mencemari pantai, dan lalu lintasnya sama semrawutnya dengan Jakarta.

“Kalau kita tidak selesaikan masalah ini (kemacetan), kita akan kehilangan investor, banyak tamu yang akan pergi sehingga tidak ada return invesment. Kemacetan ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi Bali secara tidak langsung. Lama-lama Bali akan banyak kehilangan invesment dan turis. Nilai plus untuk Bali juga akan berkurang jika masalah ini tidak segera diatasi,” ujar pria yang sudah 7 tahun tinggal di Bali ini.

Terkait hal ini, Ketua Aliansi Masyarakat Pariwisata Bali (AMPB) Gusti Kade Sutawa menyatakan, persoalan kemacetan di Bali khususnya Kuta dan sekitarnya merupakan masalah klasik yang harus segera diatasi.

“Selain mengurangi jumlah kendaraan di jalan dan memperbaiki sistem transportasi publik, pemerintah juga perlu membangun infrastuktur yang memadai, seperti jalan tol atau jalan bawah tanah di kawasan yang macet tersebut. Keluhan terkait jalan macet sudah banyak sekali, kalau itu tidak bisa segera diperbaiki citra Bali akan terus menurun. Jadi mari percepat pembangunan kontruksi jalan tol di atas perairan dan juga jalan underpass, itu akan bisa cepat mengurai kemacetan,” paparnya.

Untuk mengatasi persoalan kemacetan lalu lintas yang semakin parah ini, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) VIII Ir Susalit Alius CES menyatakan pihaknya akan segera membangun jalan bawah tanah atau underpass di sekitar simpang Dewa Ruci Kuta. Proyek jalan bawah tanah pertama di Bali yang menelan biaya Rp 179 milyar ini akan dikerjakan mulai akhir tahun ini selama 18 bulan.

Panjang jalan bawah tanah direncanakan mencapai 800 meter, dengan lebar 18 meter, dan tinggi 5,2 meter. Jalan bawah tanah ini nantinya akan berada persis di tengah-tengah jalan “by pass” Ngurah Rai yang ada saat ini.

“Selama pengerjaan proyek underpass, pasti pengguna jalan akan sedikit terganggu. Kami berharap warga masyarakat yang melintas di jalan tersebut untuk memaklumi karena proyek ini dibangun untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di wilayah tersebut, disamping untuk kepentingan pelaksanaan KTT APEC

Marilah kita berharap bahwa hal ini bisa menjadi solusi terhadap kemacetan di Bali, sebab hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Bali di masa depan.  Disisi lain juga perlu dikembangkan sarana transportasi umum yang mampu secara massal menjangkau kawasan-kawasan wisata di Bali untuk megurangi kemacetan seperti saat ini.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: