Monthly Archives: Mei, 2012

Pro Kontra Aturan Batas Tinggi Bangunan di Bali Part 3

BALI AKAN SIRNA

Sungguh sangat disayangkan apabila undang-undang tentang bangunan di Bali harus dikaji ulang menjadi undang-undang baru yang membolehkan tinggi bangunan di Bali di atas 15 meter. Apa Bali mau dijadikan kota metropolitan dengan bangunannya yang menjulang tinggi seperti di kota-kota besar? Hal ini sama saja dengan merusak citra Bali secara perlahan namun pasti.

Kebijakan tersebut merupakan kebijakan yang sungguh menginjak-injak keajegan Bali. Tanah memang tersisa, namun makna tanah itu lama-kelamaan akan sirna. Yang akan menjadi perhatian adalah deretan bangunan mewah dengan daya pikatnya yang mematikan komponen ketradisionalan Bali, menyirnakan budaya Bali yang berlandaskan Tri Hita Karana.

Apabila desas-desus adanya undang-undang yang membolehkan bangunan dengan ketinggian di atas 15 meter diriilkan, citra Bali akan rusak. Bukankah Bali akan sama jadinya seperti negara-negara dengan panorama gedung bertingkat seperti Jepang? Akan sama dengan negara berkembang yang hampir di setiap kawasannya terdapat bangunan dengan tinggi di atas 15 meter. Bali akan dipenuhi dengan penuh sesak bangunan yang tinggi menjulang dan kemungkinan besar akan dikelola oleh investor asing. Jika hal ini dibiarkan begitu saja, kita sama saja dengan menjual Bali kepada investor asing. Lama-kelamaan budaya Bali akan luntur dengan keberadaan bangunan menjulang tinggi hasil pengelolaan investor asing. Investor asing tak tahu pasti seluk-beluk budaya kita, bukan? Tentu ini berdampak Bali kehilangan citra di mata dunia karena budaya Bali tak akan dengan mudah dipakai oleh investor asing dalam pemutusan pembuatan bangunan menjulang tinggi.

Kita semuai harusnya mengambil tindakan tegas secara cepat dan tepat agar undang-undang tersebut tak cepat disahkan. Tindakan tegas itu bisa berupa protes langsung kepada pemerintah atau sebelumnya mengadakan suatu diskusi terbuka dengan pembuat undang-undang tersebut. Jika jalan tersebut tidak menemukan suatu titik temu, maka segenap komponen masyarakat yang cinta akan budaya Bali harus mengupayakan agar peraturan yang terlihat bijak namun menginjak budaya tersebut tidak direalisasikan.

Pro Kontra Aturan Batas Tinggi Bangunan di Bali Part 2

USULAN PENAMBAHAN TINGGI BANGUNAN DI BALI

Lima belas adalah angka keramat bagi para budayawan, akademisi, pengamat, media, dan pengambil kebijakan di Bali.

Sejak awal 1970-an ketinggian bangunan baru di Bali dibatasi maksimal 15 meter, atau 4 lantai, atau “tidak lebih tinggi daripada pohon kelapa”. Aturan berdasarkan rekomendasi dari lembaga konsultan dari Perancis, SCETO. Hanya Hotel Grand Bali Beach di Sanur punya 10 lantai. Hotel ini dibangun mulai tahun 1966.

Kebijakan ini masih bertahan hingga sekarang. Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (Perda RTRW) Bali 2009-20291 masih mempertahankan pembatasan 15 meter ini.  Pasal 95, ayat 2, butir b Perda ini menyatakan ketinggian bangunan di atas permukaan bumi dibatasi maksimum 15 (lima belas) meter. Aturan ini tak berlaku untuk bangunan umum dan bangunan khusus yang memerlukan persyaratan ketinggian lebih dari 15 meter. Misalnya, menara pemancar, tiang listrik tegangan tinggi, mercusuar, menara-menara bangunan keagamaan, dan bangunan-bangunan untuk keselamatan penerbangan.

Butir ini pula yang menjadi salah satu yang dibahas dengan sengit dalam perdebatan di berbagai media mengenai rencana revisi Perda RTRW. Isu terpanas lainnya adalah mengenai luas dan aturan pemanfaatan sempadan kawasan suci pura dan pantai.

Pihak pro-pembatasan 15 meter berasalan kuat. Menurut mereka pembatasan masih tetap relevan untuk menjaga ciri khas Bali dan pelaksanaan Tri Hita Karana. Aturan ini pun selaras dengan konsep pariwisata budaya Bali.

Pihak pro-revisi beralasan pembatasan akan berakibat buruk terhadap lahan pertanian Bali yang kian sempit. Pertumbuhan penduduk Bali yang relatif cepat menuntut perluasan wilayah pemukiman.

Kedua belah pihak memiliki argumen kuat. Keduanya sama-sama memiliki keinginan memajukan Bali tanpa mengorbankan nilai-nilai estetika Bali.

Konsep pembatasan tinggi bangunan bukanlah fenomena unik yang hanya terjadi di Bali. Greenwich Village Historic District di New York menerapkan pembatasan tinggi bangunan maksimal 12 lantai. Pusat kota Paris pun menerapkan batas maksimal 83 feet (25 meter). Kedua kota tersebut masih menerapkannya hingga sekarang.

Tidak kalah dengan kota-kota di negara maju, kota Mumbai di India pun menerapkan batasan tinggi bangunan, lebih ekstrim lagi, 1.3 lantai. Artinya, sejak 1991, tidak ada lagi bangunan baru dengan tinggi 2 lantai atau lebih di Mumbai.

Semua pembatasan tersebut didasari semangat konservasi bangunan-bangunan atau lanskap kota yang bernilai sejarah. Semangat ini kurang lebih sama dengan semangat masyarakat Bali sejak tahun 1970-an.

Kebijakan pembatasan tinggi bangunan umumnya memiliki beberapa konsekuensi negatif. Pertama, lonjakan harga tanah karena terbatasnya lahan pemukiman. Gejala mahalnya harga tanah sudah dapat dirasakan di Bali. Pada tahun 2011 saja, rata-rata kenaikan harga tanah kaveling mencapai 34 persen dalam setahun, dengan ekspektasi kenaikan harga tidak kurang dari 20 persen sepanjang 2012.

Harga tanah di kawasan Sanur sudah mencapai lebih dari Rp 300 juta per are (100 meter persegi). Harga ini naik lebih dari 30 persen per tahun selama lima tahun terakhir. Nilai ini setara dengan harga tanah di perumahan elit Jakarta seperti Bintaro atau Bumi Serpong Damai.

Tingginya harga tanah, tanpa disertai peningkatan pendapatan setara rata-rata masyarakat Bali, merupakan salah satu faktor maraknya penjualan tanah terhadap “investor” dari luar Bali. Para investor ini, kebanyakan berbekal pendapatan dari booming harga komoditas batubara dan kelapa sawit. Mereka menyasar Bali sebagai alternatif investasi properti potensial di luar Jakarta.

Mahalnya harga tanah dan arus urbanisasi dari luar kota Denpasar maupun dari luar Bali juga diprediksi akan menyebabkan timbulnya daerah kumuh (slum). Hal ini karena perumahan memadai sudah tidak terjangkau lagi harganya. Menurut Bali Post, itik pemukiman kumuh di Denpasar sudah menyebar di 70 lokasi.

Konsekuensi lain selain tingginya harga tanah adalah naiknya kepadatan lalu lintas. Pembatasan tinggi bangunan menyebabkan pembangunan lebih bersifat ke samping (horisontal) dan tidak ke atas (vertikal). Kota menjadi lebih luas. Setiap orang menjadi butuh kendaraan untuk pergi bekerja ataupun melakukan aktivitas lain. Pembangunan sarana transportasi massal pun lebih sulit dan mahal karena persebaran daerah pemukiman penduduk dan perkantoran.

Masyarakat pun cenderung memilih kendaraan pribadi daripada kendaraan umum. Transportasi publik tidak memiliki rute langsung dari daerah pemukimannya ke area tempat kerjanya. Kemacetan lalu lintas pun tak terhindarkan. Kenaikan jumlah kendaraan rata-rata 6 persen per tahun sejak 2005, sedangkan panjang jalan hanya tumbuh rata-rata 2,2 persen per tahun.

Masalah pembatasan tinggi bangunan sebaiknya tidak dilihat sebagai sebuah isu dikotomis. Angka “15” pun bukan angka sakral. Angka ini instrumen yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai sasaran.. Apakah Bali bisa mempertahankan pariwisata budaya dan Tri Hita Karana saat kota Denpasar dan Kuta dikepung daerah kumuh dan kemacetan?

Saat ini pun, aturan pembatasan tinggi bangunan 15 meter tidak dapat mencegah bertebarannya rumah-toko (ruko) dan model bangunan yang tidak berciri khas Bali sama sekali.

Beberapa alternatif jalan tengah sudah diajukan berbagai pihak. Misalnya pemberian izin bangunan tinggi untuk bangunan publik seperti kantor pemerintah, rumah sakit, dan sekolah. Ada juga yang mengusulkan pemberian izin khusus untuk daerah-daerah tertentu seperti daerah bisnis di Jalan Gatot Subroto.

Apa pun usulan yang akhirnya diterima dan dimasukkan dalam Perda RTRW, jika memang aturan 15 meter ini akan direvisi, maka ada dua hal yang perlu dipastikan: aturan main yang lebih spesifik dan transparansi.

Pertama-tama perlu dibuat satu tata aturan khusus untuk bangunan lebih dari 4 lantai, kalau di luar negeri disebut building code. Aturan ini memastikan setiap gedung tinggi yang dibangun harus memerhatikan aspek keselamatan, aspek keserasian dengan lingkungan sekitar, aspek estetika, dan aspek integrasi dengan budaya Bali. Perda No 5 Tahun 2005 tentang Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung, yang saat ini lebih banyak mengatur tentang corak penampilan arsitektur Bali, perlu disempurnakan dan diperinci.

Kita juga harus memastikan bahwa setiap proposal bangunan lebih dari 4 lantai harus melewati proses dengar pendapat publik dan. Proposal pun harus dinilai komisi khusus yang menangani bidang tata ruang. Proposal ini juga harus bisa diunduh dan dikomentari semua orang melalui Internet. Dengan proses ini, tidak sembarangan gedung tinggi bisa dibangun hanya dengan modal finansial kuat saja.

Di beberapa kota di luar negeri, detail dari rencana pembangunan gedung bisa diunduh dari website kota tersebut. Sebagai contoh adalah website Florida Building, di mana kita bisa mengunduh project plan dari gedung mana pun di Florida.

Liputan demi liputan di media mengenai revisi RTRW merupakan bukti bahwa masyarakat Bali sangat peduli tata ruang pulaunya. Rencana tata ruang memang akan berdampak kepada tidak hanya generasi sekarang, tapi juga generasi anak dan cucu kita. Mereka yang akan mewarisi pulau ini.

Dengan kebijakan dari para pemimpin dan wakil rakyat, serta transparansi dan aturan main yang jelas, mudah-mudahan tidak ada lagi kekhawatiran dari masyarakat akan hilangnya ciri khas Bali. Kesemrawutan serta kemacetan total pun bisa dihindarkan.

Pro Kontra Aturan Batas Tinggi Bangunan di Bali Part 1

    Dalam Perda RTRW Prov. Bali, Ketinggian bangunan tidak boleh melebihi 15 meter, atau melebihi ketinggian pohon kelapa.  Mengapa pohon kelapa? Kenapa tidak pohon lain seperti pohon bambu, duren, beringin atau pohon gaharu?. Dan apa pula yang menjadi pemikiran para bijak pencetusnya?

Tanpa bermaksud mendahului, apalagi menggurui, saya coba renungkan dengan sembarang. Pohon kelapa adalah salah satu pohon yang multi guna. Mulai dari akar, batang, buah, daun, hingga lidinya, bermanfaat bagi kehidupan manusia. Pohon kelapa mungkin salah satu pohon yang berdampak luas bagi kehidupan. Sebut saja, mulai dari makanan khas Indonesia menggunakan santan sebagai campurannya. Halaman rumah dan jalanan menjadi bersih karena ada sapu lidi. Rumah tradisional tahan gempa juga terbuat dari batang pohon kelapa. Bahkan, pedagang juga hidup menjual es kelapa muda. Akar kelapa dipahat menjadi kerajinan cantik yang mahal. Jutaan ketupat pun dibuat, menggunakan dauh kelapa.

Pohon kelapa benar-benar lekat dengan hidup dan kehidupan manusia. Manusia yang hidup pasti butuh kelapa, dan kelapa yang hidup bisa menghidupi manusia. Hubungan yang sangat harmonis, hubungan yang menciptakan kesadaran bahwa; “Hidup berasal dari Kehidupan”. Yang kemudian membuat manusia menjadi santun, adab, bijak, dengan semua kehidupan. “Tanpa ketamakan, tanpa kerakusan?” Saya tidak tahu apakah istilah ini setara dengan “Keadilan” dan ‘Kedaulatan yang bermartabat? Yang jelas, pohon kelapa benar-benar pohon yang memiliki aspek sosial, ekonomi dan juga industri di seluruh bumi nusantara.

Kini di Bali, pohon kelapa dan bangunan, jika di renungkan lebih jauh ternyata melahirkan dua kutub pemikiran, kearifan dan juga kekuasaan, saling berhadap-hadapan. Dibatasinya ketingian bangunan (gedung) di Bali maksimal 15 meter atau tidak melebihi pohon kelapa, ternyata tersurat dan tersirat bahwa; manusia Bali harus menyadari akan batas-batas (Terukur), mana yang boleh dan tidak boleh (aturan main/awig-awig), relasi hidup dan kehidupan manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Sang Pencipta (Tri Hita Karana).  Setiap pembangunan  harus merujuk pada batas-batas diri atau tubuh (Angga). Tubuh yang lain (Makrokosmos) juga disebut buana, bumi, tanah, atau ibu pertiwi. Diri manusia dan tanah harus selaras, seiring sejalan, saling hidup menghidupi. Makanya masyarakat adat Bali tidak bisa lepas dari tanah, tanah yang melahirkan asal usul. Lupa akan asal usul sama dengan lupa diri, lupa dengan segalanya dan seterusnya.

Jadi mengenal spirit pohon kelapa, membantu manusia adat Bali mengenal hidup, mengenal kemampuan diri untuk mengelola hak-hak atas tanah. Budaya yang menjadikan pulau Bali sebagai pulau sosial, ekonomi dan industri yang berjalan seimbang dan bermartabat. Toh juga apa yang ada sekarang ini,  Bali sudah disebut “Pulau Sorga” dalam panji-panji pariwisata yang mendunia. Pariwisata budaya, yang menghidupi jutaan tenaga kerja  dan menarik jutaan wisatawan. Masih belum cukupkah itu?

Jadi, sesunguhnya, konsep kesejahteraan masyarakat adat Bali bukanlah berapa pertumbuhan PDRB, bukan juga berapa besar GNP, dan bukan berapa besar UMR, dan bukan berapa persen angka-angka pertumbuhan ekonomi, seperti indikator kemiskinan “Impor” yang dipakai selama ini, yang ujung-ujungnya utang luar negeri.
Konsep kesejahteraan bagi masyarakat adat di Bali adalah “kedamaian buat semua makhluk di muka bumi”, kesetaraan, pemerataan, dan keadilan lahir batin. Walaupun ada beberapa perkembangan  pembangunan dan inovasi teknologi, perubahan tetap memungkinkan dilakukan, sepanjang motif dan tujuannya (Visi dan Misi) tetap sejalan dengan spirit dan kesadaran kearifan di atas.

Dan apa yang terjadi jika batas ketinggian bangunan 15 meter di langgar ? benarkan akan menimbulkan persoalan? Sebagai contoh : bangunan pencakar langit. Jika itu adalah apartemen pasti kebanyakan orang Bali tidak sanggup membelinya, Jika perncakar langit itu dihuni oleh rimbuan orang, maka akan dibutuhkan rimbuan liter air. Akan dibutuhkan banyak sekolah tambahan, rumah sakit, pertokoan, transportasi public, jalan raya, arela parker, penegakan hukum dan seterusnya. Jika gedung pencakar langit itu adalah hotel bintang lima, bukankan Bali sudah kelebihan 9.000 lebih kamar hotel berbintang yang tidak laku? Data menunjukan, untuk merawat satu kamar hotel berbintang, rata-rata  membutuhkan 2000-3000 liter air per hari, untuk MCK, Kebun, Kolam renang, laundry, dan lain sebagainya (Walhi Bali, 2008).

Bali sudah kekurangan air, baik “air sumber” dan “air baku”? Sementara air tanah, pajaknya begitu tinggi? Petani sawah pun tidak dapat air irigasi, lahan pertanian produktif terus menyempit, ketahanan pangan benar-benar menjadi tantangan. Beban daya listrik pun sering menjadi persoalan. Kriminalitas pun berlomba di koran-koran. Dan jika ketinggian bangunan ini dipaksakan, “kekuasaan” dari manakah yang mencekokinya? Bukankah rakyat dan masyarakat adat Bali jelas-jelas menolaknya? Kekuasaan yang melampoi kesadaran, kekuasaan yang membingungkan.

Bunga Jempiring

Jempiring atau Kacapiring atau Kaca Piring(Gardenia augusta) adalah perdu tahunan dari suku kopi-kopian atau Rubiaceae. Bunganya berwarna putih dan sangat harum. Tanaman juga dikenal dengan nama binomial Gardenia jasminoides yang berarti “seperti melati,” walaupun tidak ada hubungannya dengan marga Jasminum (Melati).

Di Bali, tanaman ini dikenal dengan nama jempiring dan bunganya merupakan maskot kota Denpasar.

Tinggi tanaman 1-3 meter, berasal dari Asia Timur dan banyak tumbuh di alam bebas, walaupun lebih banyak dijumpai di sekitar tempat tinggal manusia sebagai tanaman hias. Daun berbentuk bulat telur, tebal, permukaan daun berwarna hijau tua yang mengkilat.

Bunga hanya muncul sekuntum di ujung-ujung tangkai, mempunyai 6 daun mahkota walaupun sebagian kultivar mempunyai bunga ganda (daun mahkota berlapis). Bunga sewaktu baru mekar berwarna putih bersih, tapi sedikit-sedikit berubah warna menjadi krem kekuningan. Bunga berbau sangat harum sehingga sering digunakan sebagai bahan baku minyak bunga. Harum bunga yang sepintas mirip Melati banyak menarik minat serangga seperti beberapa spesies Lepidoptera dan semut.

Ada dua hal yang paling menarik dari Bunga Jempiring ini. Pertama adalah wanginya. Kedua adalah warnanya.  Bunga Jempiring memiliki ‘note’ wangi yang sangat anggun, lembut dan mewah diantara bunga bunga. Wanginya juga memiliki kedalaman rasa yang mengingatkan pada alam mimpi. Sangat flowery. Saking kuatnya wangi yang dimiliki bunga ini, bahkan hingga layupun jempiring masih tetap wangi. Sangat ideal untuk dijadikan bahan potpourri.  Sementara  warna putihnya juga sangat  anggun dan mewah seolah tak bernoda. Terlihat sangat kontras danbersih diatas daunnya yang berwarna hijau gelap. Jadi kedua hal ini, wangi dan warna telah membangun kesansangat anggun  bagi keseluruhan image bunga ini.

Buah berwarna kuning dengan daun kelopak yang masih menempel, berbentuk oval dan tidak akan retak walaupun sudah matang dan kering.Tanaman berkembang biak dengan cara stek atau cangkok.

Manfaat


Bunga merupakan komoditas bunga potong, digunakan dalam karangan bunga dan korsase. Daun bisa digunakan sebagai obat seriawan dan akarnya sebagai obat sakit gigi.
Buah mengandung crocin (salah satu jenis karotenoida) berwarna kuning cerah seperti yang terdapat pada safron. Buah yang kering merupakan bahan pewarna. Di Jepang, bahan pewarna dari Kacapiring digunakan untuk pencelupan tekstil dan pewarna kue tradisional (wagashi) dan asinan lobak (takuan).