Monthly Archives: Januari, 2012

Jalak Bali

Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) adalah sejenis burung pengicau berukuran sedang, dengan panjang lebih kurang 25cm, dari suku Sturnidae. Jalak Bali memiliki ciri-ciri khusus, di antaranya memiliki bulu yang putih di seluruh tubuhnya kecuali pada ujung ekor dan sayapnya yang berwarna hitam. Bagian pipi yang tidak ditumbuhi bulu, berwarna biru cerah dan kaki yang berwarna keabu-abuan. Burung jantan dan betina serupa.

Endemik Indonesia, Jalak Bali hanya ditemukan di hutan bagian barat Pulau Bali. Burung ini juga merupakan satu-satunya spesies endemik Bali dan pada tahun 1991 dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali. Keberadaan hewan endemik ini dilindungi undang-undang.

Jalak Bali ditemukan pertama kali pada tahun 1910. Nama ilmiah Jalak Bali dinamakan menurut pakar hewan berkebangsaan Inggris, Walter Rothschild, sebagai orang pertama yang mendeskripsikan spesies ini ke dunia pengetahuan pada tahun 1912.

Karena penampilannya yJalak Bali di Kebun Binatang Brookfieldang indah dan elok, jalak Bali menjadi salah satu burung yang paling diminati oleh para kolektor dan pemelihara burung. Penangkapan liar, hilangnya habitat hutan, serta daerah burung ini ditemukan sangat terbatas menyebabkan populasi burung ini cepat menyusut dan terancam punah dalam waktu singkat. Untuk mencegah hal ini sampai terjadi, sebagian besar kebun binatang di seluruh dunia menjalankan program penangkaran jalak Bali.

Jalak Bali dinilai statusnya sebagai kritis di dalam IUCN Red List serta didaftarkan dalam CITES Appendix I.

Sapi Bali

Sapi Bali merupakan sapi keturunan Bos sondaicus (Bos Banteng) yang berhasil dijinakkan dan mengalami perkembangan pesat di Pulau Bali. Sapi Bali asli mempunyai bentuk dan karakteristik sama dengan banteng. Sapi Bali termasuk sapi dwiguna (kerja dan potong).
Sapi bali terkenal karena keunikan dan keunggulannya  di banding sapi jenis lain. Sapi Bali mempunyai sapi yang memiliki banyak sifat unggul diantaranya reproduksi sangat baik, cepat beranak, mudah beradaptasi dengan lingkungannya, tahan terhadap penyakit, dapat hidup di lahan kritis, memiliki daya cerna yang baik terhadap pakan dan persentase karkas yang tinggi. Tidak heran bila Sapi Bali merupakan jenis sapi terbaik diantara sapi-sapi yang ada di dunia.
Dengan introduksi teknik rekayasa pembibitan dan budidaya, Indonesia mulai berswasembada beras dan berencana mengekspornya tahun depan. Prestasi ini memicu perlakuan sama untuk peternakan sapi. Target Indonesia berswasembada daging ternak ini dalam lima tahun mendatang.
Sejak lama Indonesia menghadapi defisit daging sapi. Kebutuhan komoditas pangan ini belum dapat dipenuhi oleh produksi daging sapi dalam negeri sehingga impor daging sapi atau sapi bakalan masih dilakukan. Pada tahun 2007, impor daging sapi dari berbagai negara mencapai 270.000 ton dan cenderung terus meningkat. Hingga tahun 2015 dengan penduduk mencapai 253 juta jiwa diperkirakan defisit daging sapi hampir 334.000 ton.
Untuk itu pemerintah mulai melirik sapi bali sebagai sapi lokal unggulan. Menurut Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman ketika berkunjung ke Agro Techno Park (ATP) Jembrana dan Nusa Penida, Bali, pekan lalu, budidaya sapi bali dengan teknik peternakan modern memungkinkan Indonesia berswasembada sapi dalam lima tahun mendatang.
Sapi bali terpilih untuk program nasional pengembangan peternakan sapi potong karena memiliki beberapa kelebihan. Sapi yang hidup di Pulau Dewata dan Nusa Penida dikenal sebagai sapi bali murni. Kemurnian genetikanya telah dilindungi dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2004 dan Perda No 2/2003 yang melarang bibit sapi bali betina keluar dari wilayah provinsi ini.
Khusus sapi bali Nusa Penida, selain bebas empat macam penyakit, yaitu jembrana, penyakit mulut dan kuku, antraks, serta MCF, juga tinggi tingkat reproduksi dan kualitas dagingnya. Sapi Nusa Penida juga menghasilkan vaksin penyakit jembrana.
Saat ini, rasio populasi sapi bali di Nusa Penida antara betina dan jantan tergolong ideal dijadikan pusat pengembangan sapi, yaitu 2,4: 1 pada tahun 2006—menurut data Dinas Peternakan Bali. Nusa Penida ditetapkan sebagai kawasan Konservasi Sapi Bali.
Pengembangan sapi bali di Nusa Penida diusulkan oleh Sentana Putra, pakar teknologi peternakan dari Universitas Udayana (Unud). Potensi sebagai pusat konservasi dan pengembangan sapi Bali dirumuskan tahun 2000 dan 2005 melalui pengkajian peneliti dari Unud dan Pemkab Klungkung dan Pemprov Bali.
Pengembangan Nusa Penida sebagai daerah pengembangan sapi bali terbuka dengan kesepakatan Pemprov Bali dan pemerintah pusat untuk membangun fasilitas pelabuhan, penyediaan kapal roro, pembangkit listrik dan pompa air, dan mesin pengolah biji jarak.
Menurut riset peneliti dari Unud, lokasi yang layak dijadikan kawasan pusat konservasi dan pengembangbiakan sapi adalah Bukit Mundi, Desa Klumpu—10 hektar. Di sana dilakukan produksi semen beku, pemuliaan bibit, penggemukan, pemantauan penyakit, penanaman pakan, pabrik mini untuk formulasikan dan memproduksi ransum ternak, pengolahan limbah peternakan menjadi gas bio dan pupuk organik.

SALAK FRUIT BALI

One of the local genius of Bali is a palm like plant called Salak which grows well in the area of Sibetan, Nongan and Batusesa village which are close to interesting places for tourist such as Candidasa Beach and Besakih Temple. Candidasa has been developed into accommodation centers where can be found various hotels and bungalows. Salak is one of tropical plantation that can produce round to conical fruits shape. The fruits are in a bunch of 10 to 20 pieces. During the fruits season one tree can give 3 to 5 bunches. The skin of fruit consist of overlapping brown conical to triangle scales with delicious white meat and one seed inside. The family name of this plantation is Arecaceae, the Indonesian name is Salak which is in English called Snake fruit due to its hard skin looks like snake skin pattern and the species name is Salacca Edulis. Salak is one of Indonesian original fruits and it also grows it in Thailand.
Why it is called “SNAKEFRUITS”? Because the fruit covered by brown scales look like snake skin pattern with thorns. For well mature fruits, the thorn itself will come off easily but when the fruit is still young the thorns glue on the scale strongly for natural protection. It is prohibited to touch young fruit directly by hand as the thorns are sharp and may injure easily. It is very easy to identify when the fruit well mature, by just seeing from the thorns, colour and fruit smell. Good fruits are ready to be harvested if the thorns have come off, and the color changed from brown to yellowish, and radiating nice smell.
Specific Character Salak is palm family that have leaves’ shape the same as coconut trees, but the trunk itself could not grow up as high as the other palm family. It only reaches 1 meters height from the land and if any strong wind blowing, the main trunk will fall down to the land again. The good fruits are usually produced when the trunk reaches between 10 upto 20cms length.
The fruit and leave holder are covered by thorns, so during harvesting time, the farmer has to be extra careful to take out the ripe fruit from its trunk. One who do not use to walk among Salak plantations is not allowed to do so, as it is very dangerous if the thorns are unintentionally touched it can easily tear the skin or even deep injury. If the thorns do not penetrate deep, its can be taken out by using safety pin but in case the thorn number are too much they must be brought to the doctor to get assistance and event the operation if necessary. Don’t try to walk if you don’t have an experience or self-confident to do it.

Land Requirements
Good land for growing this species (Salacca Edulis) must qualify the following conditions :
Highland between 700 up to 1000 above sea level Sunshine between 50-70%. Temperature between 18 – 25 degrees Celcius Soil pH between 5-7 Enough water circulation Terraced land is the best to grow these Salak plantations. Land get circulation of the wind also add good factor for well growing. In Bali there is plenty of land still suitable for growing salak, with fastest production time of around 4 years after planting with good care.

Quality Classification In Indonesia, we have three famous variations of the fruits based on the area of growing :
* Salak Pondoh grows in Yogyakarta. The fruits are very famous in Java and is exported to another country. The price per 1 Kg is around Rp 5000,-at the farmer (producer).
* Salak Manonjaya grows in Tasik Malaya, exactly at Manonjaya district, central Java. The fruits are only consumed by local people and sold locally around Java island. The price per 1 kg is around Rp 4000, at the farmer.
* Salak Bali, the famous one is Salak Gula Pasir ( White Sugar Salak ) which is planted at eastern part of Bali, exactly from Sibetan village to Rendang village, Kabupaten Karangasem.
The plantation grows well here as all those villages are located between 800 – 1000 above sea level and also the land at these areas is very fertile after Mount Agung Eruption in 1963. The lava of eruption has made the land become fertile. The wind circulation is consistent which results good quality fruits. Good Salak Bali is only produced in Karangasem Regency and become main products compared to other agricultural products. Sibetan village has the most popular fashion fruits of this kind in Indonesia. If one visit Bali, Salak is the first choice for souvenir , although it is actually intra-insular trading of this fruit is already well established especially shipment from Bali to big cities in Java, Kalimantan, Sulawesi and East Nusa Tenggara. Since a decade, Salak is also a commodity for export especially to Singapore. The demand is big, but the quality required can not meet the growing need. Without special preservation the fruit under normal climate in tropical country like Bali can stay for 2 weeks, while under temperature of 10 degree Celcius can stay for 3 weeks and in a freezer can stay for 1 month or more.

Harvesting Time
The main harvesting time will be every six month. The farmer can harvest it’s fruits, exactly during rainy seasons in December, January, February, March to April every year. The best harvesting time will be falling in January to February. Each bunch of fruits consist of two or three fruit holders and have the weight around 2,5 to 3 KGS.

Marketing
Normally the buyer come directly to the farmers or their land to negotiate the price. Some time, they can get better price in the farmer directly compared to buying from wholesaler, but with this way actually the end-costs will be higher compared to buy from local wholesaler, since the cost of labor in harvesting, transporting from the land to the nearer truck parking, sorting, and others. Normally the labor coming from other areas, in this case they will use this as their bargaining power get higher pay. It will be quiet different if they are asked by local people to work, they will not play the costs, since it is like a contract that everyday and everyone know what will be the costs if local people employ other people for hourly, half day or full day. For the big buyer, it is suggested to deal with local collector at the first hand producer or Koperasi Petani (Farmer Co-operation) to get better price and also the quality of the fruits more fresh if the buyer want to resell it again to another island or exporting to another country such as Singapore, Malaysia, Australia and etc. So that the buyer only needs the costs of packing and transporting from the village to the staffing place or consolidating place with other consignments.

Packaging
For export quality, we have to select the fruits first into 3 categories :
* Class A, diameter of the fruits around 5-6 cms
* Class B, diameter of the fruits around 4-5 cms
* Class C, diameter of the fruits around 3-4 cms
For export, the best one in Class A, and Class B for intra-insular and Class C normally sold locally to be processed into fresh juice drink and if using high technology the fruit itself can produce wine the same like the other fruits such us : grave, apple and other. In developing country, like Indonesia the problem of this processing is the availability of suitable technology. Therefore, we believe that gradually in the future we can produce the Salak Wine because the fruit itself containing high glucose that is good element for fermentation process. Wine with high alcoholic percentage can be produced from this type of fruit. This is a great opportunity if any one want to invest in producing salak wine, a big market is waiting in Bali only as the tourism destination, while during harvesting time of salaks there are so many, around 2% of total harvest were thrown by the farmer since it is only Class C and lower. This Class C has the same taste, but the only size is the smallest. When I spoke with wholesaler in Karangasem how they pack this fruit before sending to another island, I got information as below : In dry condition, the fruit can stay at least 2 weeks. Enough wind circulation in the packing boxes. The good boxes are made from Bambu basket local name is Keranjang Bambu.  Banana leafs used for wrapping fruits to avoid any damage during shipment, any cushioning system is possible, depending on materials availability.

Ekowisata di Bali

Pariwisata adalah penggerak utama ekonomi Bali. Sayangnya, warga lokal seringkali hanya menjadi penonton dalam pariwisata. Pertanian pun harus mengalah pada tuntutan pembangunan pariwisata di Bali. Saluran irigasi ditutup untuk membangun jalan. Sawah dijual untuk membangun hotel.

Empat desa di Bali yang sebelumnya terpinggirkan oleh pariwisata kemudian membentuk jaringan bersama bernama Jaringan Ekowisata Desa (JED). Selain mendistribusikan pemasaran hasil pertanian masing-masing desa, jaringan ini juga menjadi alternatif bagi pariwisata masal (mass tourism) Bali. Lebih dari itu, JED juga menjadi upaya untuk memiliki kembali Bali yang terlalu banyak dieksploitasi atas nama pariwisata.

Empat Desa yang Tersingkir
JED berawal dari rasa iri terhadap gemerlap pariwisata yang lebih banyak ada di Bali selatan seperti Badung, Denpasar, dan Gianyar. Desa-desa di pinggiran Bali, termasuk Tenganan, Pelaga, Sibetan, dan Nusa Ceningan hanya mendapat rempah atau bahkan tidak kebagian kue besar keuntungan pariwisata tersebut. Bahkan, bisa dikatakan mereka tersingkir oleh pariwisata itu sendiri. Sejak tahun ‘30-an, Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, sudah menjadi salah satu tujuan wisata di Bali. Desa di Bali Timur ini memiliki kekayaan budaya berupa tradisi yang tidak ditemukan di daerah lain di Bali. Misalnya tata ruang desa dan kain tenun.
Karena desa adalah ruang publik, maka setiap orang dapat ke sana, termasuk turis-turis asing yang dibawa agen perjalanan wisata. Sayangnya meski banyak turis berkunjung, warga setempat tidak mendapat manfaat langsung terutama dari sisi ekonomi.

Ekowisata, Mengawinkan Pariwisata dan Pertanian
Penduduk Tenganan yang sebagian besar petani tahu bahwa tiap turis asing yang datang ke Tenganan
membayar sampai 100 dolar AS (sekitar Rp 1 juta) ke agen perjalanan wisata. Namun uang yang masuk ke desa tidak lebih dari Rp 35.000 per turis. Ini praktik yang sangat tidak adil.
Sampai akhirnya, penduduk setempat tidak tahan lagi ketika serombongan turis asing dan pemandunya
meninggalkan bekas makanan di pelataran pura desa dalam kondisi berantakan, usai melakukan treking.
Penduduk setempat mulai berpikir untuk mengubah kondisi dengan cara terlibat langsung dalam pariwisata. Selain untuk mendapat manfaat ekonomi lebih besar, penduduk setempat juga bisa menjaga lingkungan mereka sendiri.
Masalah yang berbeda terjadi di tiga desa lain. Petani kopi di Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten
Badung seringkali iri dengan keberhasilan pariwisata di Badung Selatan. Penduduk setempat merasa gemerlap pariwisata hanya dinikmati warga Kuta, Nusa Dua, Denpasar, dan sekitarnya. Pemerintah Kabupaten Badung sudah berusaha mengurangi kesenjangan ini dengan membuat proyek agrowisata di Badung Utara seperti Desa Pelaga dan sekitarnya. Namun proyek ini tidak banyak melibatkan warga setempat. Akhirnya, warga setempat hanya menjadi obyek dan agrowisata itu tidak berjalan baik. Namun, warga masih tetap ingin menikmati manfaat ekonomi dari pariwisata namun dengan tetap mengendalikan sepenuhnya sumber daya yang mereka miliki.
Petani salak di Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem tidak jauh berbeda dengan petani kopi Pelaga. Mereka juga ingin mendapat tempat di antara gemerlap pariwisata. Dibanding tiga desa tersebut, pengalaman Desa Nusa Ceningan mungkin paling mengenaskan. Pulau kecil di Bali Tenggara ini akan dijadikan kawasan wisata terpadu seperti Nusa Dua yang dikelola Bali Tourism Development Centre (BTDC). Proyek tahun 1999 ini memaksa warga setempat untuk menjual tanahnya. Masyarakat pun menolak karena tidak mau pindah dari tempat di mana sebagian besar dari mereka bertani rumput laut.

Menyatukan Persoalan, Berbagi Peran
Empat desa itu, Tenganan, Pelaga, Sibetan, dan Ceningan dipertemukan oleh Yayasan Wisnu, Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) di bidang pemberdayaan masyarakat lokal. Tujuannya agar masyarakat mampu menggunakan sumber daya yang mereka miliki sendiri. Tahun 2000, Wisnu memberikan pelatihan kemampuan pemetaan (mapping) agar warga empat desa itu memiliki pengetahuan tentang sumber daya desanya.
Dari situ terlihat bahwa selain potensi wisata seperti daerah lain di Bali, masing-masing desa juga punya potensi yang bisa lebih didayagunakan. Tenganan punya padi. Ceningan punya rumput laut. Pelaga punya kopi. Sibetan punya salak. Semua sumber daya itu bisa dioptimalkan untuk menunjang pariwisata, penggerak utama roda ekonomi di Bali (sekitar 80 persen).
Setelah tahu potensi desa masing-masing, warga lalu belajar tentang ekowisata, karena bagaimanapun Bali tidak bisa dilepaskan dari pariwisata. Tapi kali ini warga tidak hanya belajar tentang bagaimana menyuplai hasil pertanian ke pusat-pusat pariwisata. Mereka juga belajar bagaimana mengelola sumber daya mereka sendiri tanpa harus tergantung pihak lain. Maka, tidak hanya belajar soal memproduksi komoditas unggulan seperti salak, kopi, padi, dan rumput laut. Mereka juga membuat sendiri jalur distribusi hasil pertanian tersebut.
Sebelumnya masing-masing desa sudah memiliki koperasi simpan pinjam. Setelah inisiatif JED, koperasi di masing-masing desa bergabung dan membentuk koperasi baru (koperasi sekunder) pada 4 Juni 2002. Koperasi yang dinamai Jaringan Ekowisata Desa (JED) ini punya dua program utama yaitu distribusi hasil pertanian dan ekowisata itu sendiri.

Distribusi Barang
Tujuan program ini adalah mendukung kerja sama antar empat desa tersebut melalui jaringan pemasaran produk pertanian. Tiga desa lain menjadi pangsa pasar produk utama desa tertentu. Misalnya Desa Tenganan menyuplai beras ke Pelaga, Sibetan, dan Nusa Ceningan. Tapi sebaliknya, Tenganan juga membeli kopi dari Pelaga, salak dari Sibetan, dan rumput laut dari Nusa Ceningan. Akibat manajemen yang kurang bagus, distribusi ini kurang berjalan baik bahkan meninggalkan hutang di koperasi. Namun saat ini, hutang tersebut sudah diputihkan karena toh, pengelolanya juga anggota JED sendiri. Distribusi pemasaran hasil pertanian di masingmasing desa saat ini sudah berhenti karena alasan tersebut.

Ekowisata
Awalnya program ini kurang berjalan karena program distribusi barang lebih diutamakan. Apalagi staf yang
terlibat juga sangat terbatas, hanya ada dua orang untuk mengurusi empat desa. Sejak tahun 2005 lalu, program ekowisata kembali berjalan dengan mengadakan promosi dan pelatihan untuk petani terkait ekowisata.
Berbeda dengan pariwisata masal yang menitikberatkan pada kuantitas pengunjung, ekowisata bersandar pada empat hal yaitu komunitas, pendidikan, budaya, dan lingkungan. Empat hal yang harus berjalan secara seimbang tersebut adalah :
(1) komunitas setempat harus terlibat sejak penyusunan hingga evaluasi wisata;
(2) wisata ini harus menjadi media belajar bagi turis maupun pengelolanya;
(3) budaya setempat harus diberi tempat agar tetap bertahan di tengah derasnya budaya lain; serta
(4) kegiatan wisata ini harus memperhatikan kelestarian lingkungan.
Satu contoh adalah keterlibatan petani di masingmasing desa. Mereka sendiri yang melakukan pemetaan,
perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi. Kalau ada turis berkunjung ke satu desa, maka warga lokal yang menjadi pemandu, bukan karyawan agen perjalanan wisata. Demi menjaga lingkungan, desa juga membatasi jumlah pengunjung yang datang. Tiap lokasi tidak boleh menerima lebih dari 10 orang per hari. Tujuannya agar aktivitas pariwisata tidak sampai merusak lingkungan yang dikunjungi.
Agar aktivitas pariwisata tidak membuat petani melupakan pertanian, maka kegiatan turis ketika berkunjung ke desa adalah terlibat langsung dalam kegiatan pertanian. Misalnya turis itu melihat proses
produksi wine di Sibetan, memetik kopi di Pelaga, atau memanen rumput laut di Nusa Ceningan. Peminat ekowisata jauh lebih kecil dibanding jenis pariwisata masal lain. Tapi dua tahun terakhir grafik jumlah pengunjung terus meningkat. Jumlah pengunjung ini berbeda-beda di tiap desa. Misalnya di Sibetan, dalam kurun waktu enam bulan hanya ada 18 pengunjung. Tapi di Pelaga mencapai 112 orang dalam kurun waktu yang sama. Perbedaan jumlah pengunjung ini karena paket ekowisata JED memungkinkan turis untuk memilih, datang ke satu desa, dua desa, atau seluruh desa. Harganya berbeda-beda tergantung lokasi desa, antara Rp 495.000 sampai Rp 1.170.000. Harga itu untuk dua orang ke satu desa. Harga tersebut ditentukan warga desa di mana 75 persen masuk ke kas koperasi desa. Sisanya ke operasional JED, yang juga dimiliki warga desa melalui koperasi sekunder. Karena itu, warga bisa menjadi pelaku sekaligus penikmat pariwisata ini meski hasilnya tidak sebesar pariwisata masal. Hal yang paling penting, petani tidak tercabut dari akarnya untuk mendapatkan manisnya kue pariwisata.
Di sisi lain, petani malah bisa meningkatkan kapasitas mereka. Misalnya petani di Sibetan belajar tentang
pengolahan wine. Pemuda di masing-masing desa juga belajar lebih banyak tentang tata cara menjamu turis sampai mengenal potensi kuliner masing-masing desa. Setelah berjalan selama enam tahun, JED makin memperlihatkan posisinya sebagai sebuah alternatif bagi pembangunan pariwisata Bali. Hasil paling jelas, petani setempat kini tidak perlu lagi iri pada kawasan lain yang maju pariwisatanya. “Sampai saat ini saya selalu bersyukur, karena memutuskan kembali ke desa. Walaupun tidak banyak uang, tetapi dada dan kepala saya hampir tidak pernah sesak lagi. Saya makin bersyukur ketika memutuskan untuk selalu belajar mengenal desa saya sendiri. Saya tetap menjadi petani dan juga bisa menjadi pemandu wisata,” kata I Gede Wiratha, petani di Kiadan Pelaga yang pernah menjadi pemandu wisata sebelum kemudian kembali ke desa menjadi petani.
Inilah hasil lain yang diperoleh JED. Anak-anak muda kini tidak lagi tergiur glamornya pariwisata. Mereka
tetap bangga dengan apa yang mereka miliki. Petani tidak terpinggirkan karena adanya pariwisata berbasis komunitas, budaya, lingkungan, dan pendidikan ini.

Oleh : I Gede Astana Jaya

Jayaprana dan Layonsari

Dua orang suami istri bertempat tinggal di Desa Kalianget mempunyai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Oleh karena ada wabah yang menimpa masyarakat desa itu, maka empat orang dari keluarga yang miskin ini meninggal dunia bersamaan. Tinggalan seorang laki-laki yang paling bungsu bernama I Jayaprana. Oleh karena orang yang terakhir ini keadaannya yatim piatu, maka ia puan memberanikan dirimengabdi di istana raja. Di istana, laki-laki itu sangat rajin, rajapun amat kasih sayang kepadanya.  Kini I Jayaprana baru berusia duabelas tahun. Ia sangat ganteng paras muka tampan dan senyumnya pun sangat manis menarik.
Beberapa tahun kemudian.
Pada suatu hari raja menitahkan I Jayaprana, supaya memilih seorang dayang-dayang yang ada di dalam istana atau gadis gadis yang ada di luaristana. Mula-mula I Jayaprana menolak titah baginda, dengan alasan bahwa dirinya masih kanak-kanak. Tetapi karena dipaksan oleh raja akhirnya I Jayaprana menurutinya. Ia pun melancong ke pasar yang ada di depan istana hendak melihat-lihat gadis yang lalu lalang pergi ke pasar. Tiba-tiba ia melihat seorang gadis yang sangat cantik jelita. Gadis itu bernama Ni Layonsari, putra Jero Bendesa, berasal dari Banjar Sekar.
Melihat gadis yang elok itu, I Jayaprana sangat terpikat hatinya dan pandangan matanya terus membuntuti lenggang gadis itu ke pasar, sebaliknya Ni Layonsari pun sangat hancur hatinya baru memandang pemuda ganteng yang sedang duduk-duduk di depan istana. Setelah gadis itu menyelinap di balik orang-orang yang ada di dalam pasar, maka I Jayaprana cepat-cepat kembali ke istana hendak melapor kehadapan Sri Baginda Raja. Laporan I Jayaprana diterima oleh baginda dan kemudian raja menulis sepucuk surat.
I Jayaprana dititahkan membawa sepucuk surat ke rumahnya Jero Bendesa. Tiada diceritakan di tengah jalan, maka I Jayaprana tiba di rumahnya Jero Bendesa. Ia menyerahkan surat yang dibawanya itu kepada Jero Bendesa dengan hormatnya. Jero Bendesa menerima terus langsung dibacanya dalam hati. Jero Bendesa sangat setuju apabila putrinya yaitu Ni Layonsari dikawinkan dengan I Jayaprana. Setelah ia menyampaikan isi hatinya “setuju” kepada I Jayaprana, lalu I Jayaprana memohon diri pulang kembali.
Di istana Raja sedang mengadakan sidang di pendopo. Tiba-tiba datanglah I Jayaprana menghadap pesanan Jero Bendesa kehadapan Sri Baginda Raja. Kemudian Raja mengumumkan pada sidang yang isinya antara lain: Bahwa nanti pada hari Selasa Legi wuku Kuningan, raja akan membuat upacara perkawinannya I Jayaprana dengan Ni Layonsari. Dari itu raja memerintahkan kepada segenap perbekel, supaya mulai mendirikan bangunan-bangunan rumah, balai-balai selengkapnya untuk I Jayaprana.
Menjelang hari perkawinannya semua bangunan-bangunan sudah selesai dikerjakan dengan secara gotong royong semuanya serba indah. Kini tiba hari upacara perkawinan I Jayaprana diiringi oleh masyarakat desanya, pergi kerumahnya Jero Bendesa, hendak memohon Ni Layonsari dengan alat upacara selengkapnya. Sri Baginda Raja sedang duduk di atas singgasana dihadap oleh para pegawai raja dan para perbekel baginda. Kemudian datanglah rombongan I Jayaprana di depan istana. Kedua mempelai itu harus turun dari atas joli, terus langsung menyembah kehadapan Sri Baginda Raja dengan hormatnya melihat wajah Ni Layonsari, raja pun membisu tak dapat bersabda.
Setelah senja kedua mempelai itu lalu memohon diri akan kembal ke rumahnya meninggalkan sidang di paseban. Sepeninggal mereka itu, Sri Baginda lalu bersabda kepada para perbekel semuanya untuk meminta pertimbangan caranya memperdayakan I Jayaprana supaya ia mati. Istrinya yaitu Ni Layonsari supaya masuk ke istana dijadikan permaisuri baginda. Dikatakan apabila Ni Layonsari tidak dapat diperistri maka baginda akan mangkat karena kesedihan.
Mendengar sabda itu salah seorang perbekel lalu tampak ke depan hendak mengetengahkan pertimbangan, yang isinya antara lain: agar Sri Paduka Raja menitahkan I Jayaprana bersama rombongan pergi ke Celuk Terima, untuk menyelidiki perahu yang hancur dan orang-orang Bajo menembak binatang yang ada di kawasan pengulan. Demikian isi pertimbangan salah seorang perbekel yang bernama I Saunggaling, yang telah disepakati oleh Sang Raja. Sekarang tersebutlah I Jayaprana yang sangat brebahagia hidupnya bersama istrinya. Tetapi baru tujuh hari lamanya mereka berbulan madu, datanglah seorang utusan raja ke rumahnya, yang maksudnya memanggil I Jayaprana supaya menghadap ke paseban. I Jayaprana segera pergi ke paseban menghadap Sri P aduka Raja bersama perbekel sekalian. Di paseban mereka dititahkan supaya besok pagi-pagi ke Celuk Terima untuk menyelidiki adanya perahu kandas dan kekacauan-kekacauan lainnya. Setelah senja, sidang pun bubar. I Jayaprana pulang kembali ia disambut oleh istrinya yang sangat dicintainya itu. I Jayaprana menerangkan hasil-hasil rapat di paseban kepada istrinya.
Hari sudah malam Ni Layonsari bermimpi, rumahnya dihanyutkan banjir besar, ia pun bangkit dari tempat tidurnya seraya menerangkan isi impiannya yang sangat mengerikan itu kepada I Jayaprana. Ia meminta agar keberangkatannya besok dibatalkan berdasarkan alamat-alamat impiannya. Tetapi I Jayaprana tidak berani menolak perintah raja. Dikatakan bahwa kematian itu terletak di tangan Tuhan Yang Maha Esa. Pagi-pagi I Jayaprana bersama rombongan berangkat ke Celuk Terima, meninggalkan Ni Layonsari di rumahnya dalam kesedihan. Dalam perjalanan rombongan itu, I Jayaprana sering kali mendapat alamat yang buruk-buruk. Akhirnya mereka tiba di hutan Celuk Terima. I Jayaprana sudah meras dirinya akan dibinasakan kemudian I Saunggaling berkata kepada I Jayaprana sambil menyerahkan sepucuk surat. I Jayaprana menerima surat itu terus langsung dibaca dalam hati isinya:
“ Hai engkau Jayaprana
Manusia tiada berguna
Berjalan berjalanlah engkau
Akulah menyuruh membunuh kau
Dosamu sangat besar
Kau melampaui tingkah raja
Istrimu sungguh milik orang besar
Kuambil kujadikan istri raja
Serahkanlah jiwamu sekarang
Jangan engkau melawan
Layonsari jangan kau kenang
Kuperistri hingga akhir jaman.”
Demikianlah isi surat Sri Baginda Raja kepada I Jayaprana. Setelah I Jayaprana membaca surat itu lalu ia pun menangis tersedu-sedu sambil meratap. “Yah, oleh karena sudah dari titah baginda, hamba tiada menolak. Sungguh semula baginda menanam dan memelihara hambat tetapi kini baginda ingin mencabutnya, yah silakan. Hamba rela dibunuh demi kepentingan baginda, meski pun hamba tiada berdosa. Demikian ratapnya I Jayaprana seraya mencucurkan air mata. Selanjutnya I Jayaprana meminta kepada I Saunggaling supaya segera bersiap-siap menikamnya. Setelah I Saunggaling mempermaklumkan kepada I Jayaprana bahwa ia menuruti apa yang dititahkan oleh raja dengan hati yang berat dan sedih ia menancapkan kerisnya pada lambung kirinya I Jayaprana. Darah menyembur harum semerbak baunya bersamaan dengan alamat yang aneh-aneh di angkasa dan di bumi seperti: gempa bumi, angin topan, hujan bunga, teja membangun dan sebagainya.
Setelah mayat I Jayaprana itu dikubur, maka seluruh perbekel kembali pulang dengan perasaan sangat sedih. Di tengah jalan mereka sering mendapat bahaya maut. Diantara perbekel itu banyak yang mati. Ada yang mati karena diterkam harimau, ada juga dipagut ular. Berita tentang terbunuhnya I Jayaprana itu telah didengar oleh istrinya yaitu Ni Layonsari. Dari itu ia segera menghunus keris dan menikan dirinya. Demikianlah isi singkat cerita dua orang muda mudi itu yang baru saja berbulan madu atas cinta murninya akan tetapi mendapat halangan dari seorang raja dan akhirnya bersama-sama meninggal dunia.
sampai saat ini kisah cinta Jayaprana dan Layonsari  membekas pada masyarakat Bali pada umumnya. banyak kisah-kisah tari dan drama yang mengisahkan kisah cinta mereka. dan peninggalan dua sejoli ini masih terawat dengan baik, yaitu kuburan yang dipercaya milik Jayaprana dan Layonsari.
Peninggalan Kuburan Jayaprana dan Layonsari ini terletak di kawasan hutan belukar Teluk Terima, Desa Sumber Klampok, Kecamatan Gerokgak, ± 67 km sebelah barat Kota Singaraja.

Pura Tanah Lot

Tanah Lot’ adalah sebuah objek wisata di Bali, Indonesia. Di sini ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Dang Kahyangan. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut.

Legenda

Menurut legenda, pura ini dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa. Ia adalah Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16. Pada saat itu penguasa Tanah Lot, Bendesa Beraben, iri terhadap beliau karena para pengikutnya mulai meninggalkannya dan mengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben menyuruh Danghyang Nirartha untuk meninggalkan Tanah Lot. Ia menyanggupi dan sebelum meninggalkan Tanah Lot beliau dengan kekuatannya memindahkan Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun pura disana. Ia juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada sampai sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra. Akhir dari legenda menyebutkan bahwa Bendesa Beraben ‘akhirnya’ menjadi pengikut Danghyang Nirartha.

Lokasi

Obyek wisata tanah lot terletak di Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km barat Tabanan. Disebelah utara Pura Tanah Lot terdapat sebuah pura yang terletak di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing ini menghubungkan pura dengan daratan dan berbentuk seperti jembatan (melengkung). Tanah Lot terkenal sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam (sunset), turis-turis biasanya ramai pada sore hari untuk melihat keindahan sunset di sini.

 

Pura Luhur Uluwatu

Pura Luhur Uluwatu atau Pura Uluwatu merupakan pura yang berada di wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Badung.

Pura yang terletak di ujung barat daya pulau Bali di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut ini merupakan Pura Sad Kayangan yang dipercaya oleh orang Hindu sebagai penyangga dari 9 mata angin. Pura ini pada mulanya digunakan menjadi tempat memuja seorang pendeta suci dari abad ke-11 bernama Empu Kuturan. Ia menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala aturannya. Pura ini juga dipakai untuk memuja pendeta suci berikutnya, yaitu Dang Hyang Nirartha, yang datang ke Bali di akhir tahun 1550 dan mengakhiri perjalanan sucinya dengan apa yang dinamakan Moksah atau Ngeluhur di tempat ini. Kata inilah yang menjadi asal nama Pura Luhur Uluwatu.[1]

Pura Uluwatu terletak pada ketinggian 97 meter dari permukaan laut. Di depan pura terdapat hutan kecil yang disebut alas kekeran, berfungsi sebagai penyangga kesucian pura.

Pura Uluwatu mempunyai beberapa pura pesanakan, yaitu pura yang erat kaitannya dengan pura induk. Pura pesanakan itu yaitu Pura Bajurit, Pura Pererepan, Pura Kulat, Pura Dalem Selonding dan Pura Dalem Pangleburan. Masing-masing pura ini mempunyai kaitan erat dengan Pura Uluwatu, terutama pada hari-hari piodalan-nya. Piodalan di Pura Uluwatu, Pura Bajurit, Pura Pererepan dan Pura Kulat jatuh pada Selasa Kliwon Wuku Medangsia setiap 210 hari. Manifestasi Tuhan yang dipuja di Pura Uluwatu adalah Dewa Rudra.[2]

Pura Uluwatu juga menjadi terkenal karena tepat di bawahnya adalah pantai Pecatu yang sering kali digunakan sebagai tempat untuk olahraga selancar, bahkan even internasional seringkali diadakan di sini. Ombak pantai ini terkenal amat cocok untuk dijadikan tempat selancar selain keindahan alam Bali yang memang amat cantik.

Pura Besakih

Pura Besakih adalah sebuah komplek pura yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia. Komplek Pura Besakih terdiri dari 1 Pura Pusat (Pura Penataran Agung Besakih) dan 18 Pura Pendamping (1 Pura Basukian dan 17 Pura Lainnya). Di Pura Basukian, di areal inilah pertama kalinya tempat diterimanya wahyu Tuhan oleh Hyang Rsi Markendya, cikal bakal Agama Hindu Dharma sekarang di Bali, sebagai pusatnya. Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura yang ada di Bali. Di antara semua pura-pura yang termasuk dalam kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar, terbanyak bangunan-bangunan pelinggihnya, terbanyak jenis upakaranya dan merupakan pusat dan semua pura yang ada di komplek Pura Besakih. Di Pura Penataran Agung terdapat 3 arca atau candi utama simbol stana dari sifat Tuhan Tri Murti, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa yang merupakan perlambang Dewa Pencipta, Dewa Pemelihara dan Dewa Pelebur/Reinkarnasi. Pura Besakih masuk dalam daftar pengusulan Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1995.

Filosofi

Keberadaan fisik bangunan Pura Besakih, tidak sekedar menjadi tempat bersemayamnya Tuhan, menurut kepercayaan Agama Hindu Dharma, yang terbesar di pulau Bali, namun di dalamnya memiliki keterkaitan latar belakang dengan makna Gunung Agung. Sebuah gunung tertinggi di pulau Bali yang dipercaya sebagai pusat Pemerintahan Alam Arwah, Alam Para Dewata, yang menjadi utusan Tuhan untuk wilayah pulau Bali dan sekitar. Sehingga tepatlah kalau di lereng Barat Daya Gunung Agung dibuat bangunan untuk kesucian umat manusia, Pura Besakih yang bermakna filosofis.

Makna filosofis yang terkadung di Pura Besakih dalam perkembangannya mengandung unsur-unsur kebudayaan yang meliputi:

  1. Sistem pengetahuan,
  2. Peralatan hidup dan teknologi,
  3. Organisasi sosial kemasyarakatan,
  4. Mata pencaharian hidup,
  5. Sistem bahasa,
  6. Religi dan upacara, dan
  7. Kesenian.

Ketujuh unsur kebudayaan itu diwujudkan dalam wujud budaya ide, wujud budaya aktivitas, dan wujud budaya material. Hal ini sudah muncul baik pada masa pra-Hindu maupun masa Hindu yang sudah mengalami perkembangan melalui tahap mitis, tahap ontologi dan tahap fungsional.

Objek penelitian

Pura Besakih sebagai objek penelitian berkaitan dengan kehidupan sosial budaya masyarakat yang berada di Kabupaten Karangasem Provinsi Bali.

Berdasar sebuah penelitian, bangunan fisik Pura Besakih telah mengalami perkembangan dari kebudayaan pra-hindu dengan bukti peninggalan menhir, punden berundak-undak, arca, yang berkembang menjadi bangunan berupa meru, pelinggih, gedong, maupun padmasana sebagai hasil kebudayaan masa Hindu.

Latar belakang keberadaan bangunan fisik Pura Besakih di lereng Gunung Agung adalah sebagai tempat ibadah untuk menyembah Dewa yang dikonsepsikan gunung tersebut sebagai istana Dewa tertinggi.

Pada tahapan fungsional manusia Bali menemukan jati dirinya sebagai manusia homo religius dan mempunyai budaya yang bersifat sosial religius, bahwa kebudayaan yang menyangkut aktivitas kegiatan selalu dihubungkan dengan ajaran Agama Hindu.

Dalam budaya masyarakat Hindu Bali, ternyata makna Pura Besakih diidentifikasi sebagai bagian dari perkembangan budaya sosial masyarakat Bali dari mulai pra-Hindu yang banyak dipengaruhi oleh perubahan unsur-unsur budaya yang berkembang, sehingga memengaruhi perubahan wujud budaya ide, wujud budaya aktivitas, dan wujud budaya material. Perubahan tersebut berkaitan dengan ajaran Tattwa yang menyangkut tentang konsep ketuhanan, ajaran Tata-susila yang mengatur bagaimana umat Hindu dalam bertingka laku, dan ajaran Upacara merupakan pengaturan dalam melakukan aktivitas ritual persembahan dari umat kepada TuhanNya, sehingga ketiga ajaran tersebut merupakan satu kesatuan dalam ajaran Agama Hindu Dharma di Bali.

Leak

Dalam mitologi Bali, Leak adalah penyihir jahat. Le artinya penyihir dan ak artinya jahat. Leak hanya bisa dilihat di malam hari oleh para dukun pemburu leak. Di siang hari ia tampak seperti manusia biasa, sedangkan pada malam hari ia berada di kuburan untuk mencari organ-organ dalam tubuh manusia yang digunakannya untuk membuat ramuan sihir. Ramuan sihir itu dapat mengubah bentuk leak menjadi seekor harimau, kera, babi atau menjadi seperti Rangda. Bila perlu ia juga dapat mengambil organ dari orang hidup.Kepercayaan

 

Diceritakan juga bahwa Leak dapat berupa kepala manusia dengan organ-organ yang masih menggantung di kepala tersebut. Leak dikatakan dapat terbang untuk mencari wanita hamil, untuk kemudian menghisap darah bayi yang masih di kandungan. Ada tiga leak yang terkenal. Dua di antaranya perempuan dan satu laki-laki.

Menurut kepercayaan orang Bali, Leak adalah manusia biasa yang mempraktekkan sihir jahat dan membutuhkan darah embrio agar dapat hidup. Dikatakan juga bahwa Leak dapat mengubah diri menjadi babi atau bola api, sedangkan bentuk Leak yang sesungguhnya memiliki lidah yang panjang dan gigi yang tajam. Beberapa orang mengatakan bahwa sihir Leak hanya berfungsi di pulau Bali, sehingga Leak hanya ditemukan di Bali.

Apabila seseorang menusuk leher Leak dari bawah ke arah kepala pada saat kepalanya terpisah dari tubuhnya, maka Leak tidak dapat bersatu kembali dengan tubuhnya. Jika kepala tersebut terpisah pada jangka waktu tertentu, maka Leak akan mati.

Topeng leak dengan gigi yang tajam dan lidah yang panjang juga kadang-kadang digunakan sebagai hiasan rumah.

Barong

Barong adalah karakter dalam mitologi Bali. Ia adalah raja dari roh-roh serta melambangkan kebaikan. Ia merupakan musuh Rangda dalam mitologi Bali. Banas Pati Rajah adalah roh yang mendampingi seorang anak dalam hidupnya. Banas Pati Rajah dipercayai sebagai roh yang menggerakkan Barong. Sebagai roh pelindung, Barong sering ditampilkan sebagai seekor singa. Sendratari tradisional di Bali yang menggambarkan pertempuran antara Barong dan Rangda sangatlah terkenal dan sering dipertunjukkan sebagai atraksi wisata.

Barong singa adalah salah satu dari lima bentuk Barong. Di pulau Bali setiap bagian pulau Bali mempunyai roh pelindung untuk tanah dan hutannya masing-masing. Setiap Barong dari yang mewakili daerah tertentu digambarkan sebagai hewan yang berbeda. Ada babi hutan, harimau, ular atau naga, dan singa. Bentuk Barong sebagai singa sangatlah populer dan berasal dari Gianyar. Di sini terletak Ubud, yang merupakan tempat pariwisata yang terkenal. Dalam Calonarong atau tari-tarian Bali, Barong menggunakan ilmu gaibnya untuk mengalahkan Rangda.