Sejarah Purbakala Bali

Masa Prasejarah
Zaman prasejarah Bali merupakan awal dari sejarah masyarakat Bali, yang ditandai oleh kehidupan masyarakat pada masa itu yang belum mengenal tulisan. Walaupun pada zaman prasejarah ini belum dikenal tulisan untuk menuliskan riwayat kehidupannya, tetapi berbagai bukti tentang kehidupan pada masyarakat pada masa itu dapat pula menuturkan kembali keadaanya Zaman prasejarah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang, maka bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang sudah tentu tidak dapat memenuhi segala harapan kita.
Berkat penelitian yang tekun dan terampil dari para ahli asing khususnya bangsa Belanda dan putra-putra Indonesia maka perkembangan masa prasejarah di Bali semakin terang. Perhatian terhadap kekunaan di Bali pertama-tama diberikan oleh seorang naturalis bernama Georg Eberhard Rumpf, pada tahun 1705 yang dimuat dalam bukunya Amboinsche Reteitkamer. Sebagai pionir dalam penelitian kepurbakalaan di Bali adalah W.O.J. Nieuwenkamp yang mengunjungi Bali pada tahun 1906 sebagai seorang pelukis. Dia mengadakan perjalanan menjelajahi Bali. Dan memberikan beberapa catatan antara lain tentang nekara Pejeng, desa Trunyan, Pura Bukit Penulisan. Perhatian terhadap nekara Pejeng ini dilanjutkan oleh K.C Crucq tahun 1932 yang berhasil menemukan tiga bagian cetakan nekara Pejeng di Pura Desa Manuaba desa Tegallalang.
Penelitian prasejarah di Bali dilanjutkan oleh Dr. H.A.R. van Heekeren dengan hasil tulisan yang berjudul Sarcopagus on Bali tahun 1954. Pada tahun 1963 ahli prasejarah putra Indonesia Drs. R.P. Soejono melakukan penggalian ini dilaksanakan secara berkelanjutan yaitu tahun 1973, 1974, 1984, 1985. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap benda-benda temuan yang berasal dari tepi pantai Teluk Gilimanuk diduga bahwa lokasi Situs Gilimanuk merupakan sebuah perkampungan nelayan dari zaman perundagian di Bali. Di tempat ini sekarang berdiri sebuah museum.
Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang di Bali, kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi :
1.    Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
2.    Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
3.    Masa bercocok tanam
4.    Masa perundagian

Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
Sisa-sisa dari kebudayaan paling awal diketahui dengan penelitian-penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960 dengan ditemukan di desa Sambiran (Buleleng Timur), dan ditepi timur dan tenggara Danau Batur (Kintamani) alat-alat batu yang digolongkan kapak genggam, kapak berimbas, serut dan sebagainya. Alat-alat batu yang dijumpai di kedua daerah tersebut kini disimpan di museum Gedung Arca di Bedahulu Gianyar.
Kehidupan penduduk pada masa ini adalah sederhana sekali, sepenuhnya tergantung pada alam lingkungannya. Mereka hidup mengembara dari satu tempat ketempat lainnya (nomaden). Daerah-daerah yang dipilihnya ialah daerah yang mengandung persediaan makanan dan air yang cukup untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Hidup berburu dilakukan oleh kelompok kecil dan hasilnya dibagi bersama. Tugas berburu dilakukan oleh kaum laki-laki, karena pekerjaan ini memerlukan tenaga yang cukup besar untuk menghadapi segala bahaya yang mungkin terjadi. Perempuan hanya bertugas untuk menyelesaikan pekerjaan yang ringan misalnya mengumpulkan makanan dari alam sekitarnya. Hingga saat ini belum ditemukan bukti-bukti apakah manusia pada masa itu telah mengenal bahasa sebagai alat bertutur satu sama lainnya.
Walaupun bukti-bukti yang terdapat di Bali kurang lengkap, tetapi bukti-bukti yang ditemukan di daerah Pacitan dapatlah kiranya dijadikan pedoman. Para ahli memperkirakan bahwa alat-alat batu dari Pacitan yang sezaman dan mempunyai banyak persamaan dengan alat-alat batu dari Sembiran, dihasilkan oleh jenis manusia. Pithecanthropus erectus atau keturunannya. Kalau demikian mungkin juga alat-alat baru dari Sambiran dihasilkan oleh manusia jenis Pithecanthropus atau keturunannya.

Masa Berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
Pada masa ini corak hidup yang berasal dari masa sebelumnya masih berpengaruh. Hidup berburu dan mengumpulkan makanan yang terdapat dialam sekitar dilanjutkan terbukti dari bentuk alatnya yang dibuat dari batu, tulang dan kulit kerang. Bukti-bukti mengenai kehidupan manusia pada masa mesolithik berhasil ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding, Pecatu (Badung). Goa ini terletak di Pegunungan gamping di semenanjung Benoa. Di daerah ini terdapat goa yang lebih besar ialah goa Karang Boma, tetapi goa ini tidak memberikan suatu bukti tentang kehidupan yang pernah berlangsung disana.Dalam penggalian goa Selonding ditemukan alat-alat terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang. Diantara alat-alat tulang terdapat beberapa lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan.
Alat-alat semacam ini ditemukan pula di goa-goa Sulawesi Selatan pada tingkat perkembangan kebudayaan Toala dan terkenal pula di Australia Timur. Di luar Bali ditemukan lukisan dinding-dinding goa , yang menggambarkan kehidupan sosial ekonomi dan kepercayaan masyarakat pada waktu itu. Lukisan-lukisan di dinding goa atau di dinding-dinding karang itu antara lain yang berupa cap-cap tangan, babi rusa, burung, manusia, perahu, lambang matahari, lukisan mata dan sebagainya. Beberapa lukisan lainnya ternyata lebih berkembang pada tradisi yang lebih kemudian dan artinya menjadi lebih terang juga diantaranya adalah lukisan kadal seperti yang terdapat di pulau Seram dan Irian Jaya, mungkin mengandung arti kekuatan magis yang dianggap sebagai penjelmaan roh nenek moyang atau kepala suku.

Masa bercocok tanam
Masa bercocok tanam lahir melalui proses yang panjang dan tak mungkin dipisahkan dari usaha manusia prasejarah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya pada masa-masa sebelumnya. Masa neolithik amat penting dalam sejarah perkembangan masyarakat dan peradaban, karena pada masa ini beberapa penemuan baru berupa penguasaan sumber-sumber alam bertambah cepat. Penghidupan mengumpulkan makanan (food gathering) berubah menjadi menghasilkan makanan (food producing). Perubahan ini sesungguhnya sangat besar artinya mengingat akibatnya yang sangat mendalam serta meluas kedalam perekonomian dan kebudayaan.
Sisa-sisa kehidupan dari masa bercocok tanam di Bali antara lain berupa kapak batu persegi dalam berbagai ukuran, belincung dan panarah batang pohon. Dari teori Kern dan teori Von Heine Geldern diketahui bahwa nenek moyang bangsa Austronesia, yang mulai datang di kepulauan kita kira-kira 2000 tahun S.M ialah pada zaman neolithik. Kebudayaan ini mempunyai dua cabang ialah cabang kapak persegi yang penyebarannya dari dataran Asia melalui jalan barat dan peninggalannya terutama terdapat di bagian barat Indonesia dan kapak lonjong yang penyebarannya melalui jalan timur dan peninggalan-peninggalannya merata dibagian timur negara kita. Pendukung kebudayaan neolithik (kapak persegi) adalah bangsa Austronesia dan gelombang perpindahan pertama tadi disusul dengan perpindahan pada gelombang kedua yang terjadi pada masa perunggu kira-kira 500 S.M. Perpindahan bangsa Austronesia ke Asia Tenggara khususnya dengan memakai jenis perahu cadik yang terkenal pada masa ini. Pada masa ini diduga telah tumbuh perdagangan dengan jalan tukar menukar barang (barter) yang diperlukan. Dalam hal ini sebagai alat berhubungan diperlukan adanya bahasa. Para ahli berpendapat bahwa bahasa Indonesia pada masa ini adalah Melayu Polinesia atau dikenal dengan sebagai bahasa Austronesia.

Gong, yang ditemukan pula di berbagai tempat di Nusantara, merupakan alat musik yang diperkirakan berakar dari masa perundagian.

Masa Perundagian
Dalam masa neolithik manusia bertempat tinggal tetap dalam kelompok-kelompok serta mengatur kehidupannya menurut kebutuhan yang dipusatkan kepada menghasilkan bahan makanan sendiri (pertanian dan peternakan). Dalam masa bertempat tinggal tetap ini, manusia berdaya upaya meningkatkan kegiatan-kegiatannya guna mencapai hasil yang sebesar-besarnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pada zaman ini jenis manusia yang mendiami Indonesia dapat diketahui dari berbagai penemuan sisa-sisa rangka dari berbagai tempat, yang terpenting diantaranya adalah temuan-temuan dari Anyer Lor (Jawa Barat), Puger (Jawa Timur), Gilimanuk (Bali) dan Melolo (Sumbawa). Dari temuan kerangka yang banyak jumlahnya menunjukkan ciri-ciri manusia. Sedangkan penemuan di Gilimanuk dengan jumlah kerangka yang ditemukan 100 buah menunjukkan ciri Mongolaid yang kuat seperti terlihat pada gigi dan muka. Pada rangka manusia Gilimanuk terlihat penyakit gigi dan encok yang banyak menyerang manusia ketika itu.
Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. Adapun cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras.Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana). Benda-benda temuan ditempat ini ternyata cukup menarik perhatian diantaranya terdapat hampir 100 buah kerangka manusia dewasa dan anak-anak, dalam keadaan lengkap dan tidak lengkap. Tradisi penguburan dengan tempayan ditemukan juga di Anyer Jawa Barat, Sabang (Sulawesi Selatan), Selayar, Roti dan Melolo (Sumba). Di luar Indonesia tradisi ini berkembang di Filipina, Thailand, Jepang dan Korea.
Kebudayaan megalithik ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Batu-batu ini mempunyai biasanya tidak dikerjakan secara halus, hanya diratakan secara kasar saja untuk mendapat bentuk yang diperlukan. di daerah Bali tradisi megalithik masih tampak hidup dan berfungsi di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Adapun temuan yang penting ialah berupa batu berdiri (menhir) yang terdapat di Pura Ratu Gede Pancering Jagat di desa Trunyan. Di Pura in terdapat sebuah arca yang disebut arca Da Tonta yang memiliki ciri-ciri yang berasal dari masa tradisi megalithik. Arca ini tingginya hampir 4 meter. Temuan lainnya ialah di desa Sembiran (Buleleng), yang terkenal sebagai desa Bali kuna, disamping desa-desa Trunyan dan Tenganan. Tradisi megalithik di desa Sembiran dapat dilihat pada pura-pura yang dipuja penduduk setempat hingga dewasa ini. dari 20 buah pura ternyata 17 buah pura menunjukkan bentuk-bentuk megalithik dan pada umumnya dibuat sederhana sekali. Diantaranya ada berbentuk teras berundak, batu berdiri dalam palinggih dan ada pula yang hanya merupakan susunan batu kali.
Temuan lainnya yang penting juga ialah berupa bangunan-bangunan megalithik yang terdapat di desa Gelgel (Klungkung).Temuan yang penting di desa Gelgel ialah sebuah arca menhir yaitu terdapat di Pura Panataran Jro Agung. Arca menhir ini dibuat dari batu dengan penonjolan kelamin wanita yang mengandung nilai-nilai keagamaan yang penting yaitu sebagai lambang kesuburan yang dapat memberi kehidupan kepada masyarakat.

Sumber: Wikipedia

Video tentang beternak kenari

Berikut ini saya sajikan bagaimana salah satu teknik beternak kenari di negara eropa. Caranya sangat sederhana dan mudah untuk dipahami, semoga berkenan..

Pulau Menjangan

Pulau Menjangan adalah Pulau Karang yang terletak di ujung barat laut Pulau Bali. Pulau ini mudah dijangkau lewat Labuhan Lalang di Desa Sumber Kelompok Kecamatan Gerokgak ± 55 km sebelah selatan Kota Singaraja

Highlight: Wall diving terbaik di Bali, dengan dunia bawah laut yang cerah dan berwarna-warni. Banyak site-site yang berbeda yang dapat dipilih, termasuk bangkai kapal dari kayu di kedalaman sekitar 35m. Kehidupan bawah laut yang kaya dan pantai berpasir putih tempat bersantai dan menikmati makan siang. Di dekatnya terdapat ‘Secret Bay’, tempat muck diving terbaik dan wajib dikunjungi oleh semua fotografer macro; surga Frogfish, Seahorse dan Nudibranchs.

Kondisi: berada di bagian ujung pulau Bali yang terlindungi, yang berarti kondisi tenang dan jernih. Air yang hangat dan visibility yang mungkin terbaik di Bali.

Di sini keindahan dan misteri pemandangan bawah laut dapat ditemukan.Kecantikan taman lautnya telah mampu menarik perhatian para penyelam tingkat dunia. Pulau ini adalah bagian dari TNBB (Taman Nasional Bali Barat) dan semua kehidupan di pulau ini dilindungi. Tidak diperkenankan memancing, mencari karang atau berburu binatang di sini.

Untuk mencapai tempat ini dapat ditempuh melewati kota Singaraja atau alternativenya melalui  Jembrana. Perjalanan dari kawasan Kuta atau Sanur sekitar 3,5 jam. Tentu semuanya akan terbayar ketika Anda sudah bisa menikmati keindahan alam bawah lautnya.

Di sini keindahan dan misteri pemandangan bawah laut dapat ditemukan.Kecantikan taman lautnya telah mampu menarik perhatian para penyelam tingkat dunia. Pulau ini adalah bagian dari TNBB (Taman Nasional Bali Barat) dan semua kehidupan di pulau ini dilindungi. Tidak diperkenankan memancing, mencari karang atau berburu binatang di sini.

Untuk mencapai tempat ini dapat ditempuh melewati kota Singaraja atau alternativenya melalui  Jembrana. Perjalanan dari kawasan Kuta atau Sanur sekitar 3,5 jam. Tentu semuanya akan terbayar ketika Anda sudah bisa menikmati keindahan alam bawah lautnya.

 

Spot snorkling di pulau Menjangan tidak hanya ada pada satu tempat saja, tetapi ada beberapa tempat, dan kebetulan saya hanya mencoba di dua tempat saja. Tempat pertama adalah didekat dermaga pulau Menjangan, tepat di dekat pantainya. sedikit mirip ketika snorkling di Amed. Awalnya saya agak heran karena di tepian tidak terlihat terumbu karang, hanya terlihat beberapa ikan yang sengaja bersliweran didekat saya. Tapi semakin berenang ke tengah keindahan bawah laut pulau Menjangan semakin terlihat, berbagai macam terumbu karang  mulai terlihat, beraneka warna ikan mulai bersliweran.

pot snorkling kedua terletak tidak terlalu jauh dari spot pertama, hanya saja lokasi snorkling berada di dekat tebing jadi tidak berlabuh di dermaga seperti di spot pertama. Di tempat kedua ini air terlihat lebih jernih, bahkan terumbu karang bisa terlihat sebelum menceburkan diri ke air. Seperti terlihat dari permukaan pemandangan bawah air benar – benar menakjubkan, terlebih pemandangan terumbu karang ketika mendekati perbatasan dengan palung laut, ikan nya pun lebih berwarna warni. Kalau anda penikmat adrenalin rush  mungkin anda bisa mencoba mengapung diatas palung tanpa menggunakan pelampung, atau mencoba free dive di dekat perbatasan palung.

Tari Pendet

Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura, tempat ibadat umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi “ucapan selamat datang”, meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Pencipta/koreografer bentuk modern tari ini adalah I Wayan Rindi (? – 1967).

Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis.[rujukan?]

Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.

Tari putri ini memiliki pola gerak yang lebih dinamis daripada Tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan. Biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan, dan perlengkapan sesajen lainnya.

Kontroversi Pendet 2009

Tari pendet menjadi sorotan media Indonesia karena tampil dalam program televisi Enigmatic Malaysia Discovery Channel. Menurut pemerintah Malaysia, mereka tidak bertanggung jawab atas iklan tersebut karena dibuat oleh Discovery Channel Singapura,kemudian Discovery TV melayangkan surat permohonan maaf kepada kedua negara, dan menyatakan bahwa jaringan televisi itu bertanggung jawab penuh atas penayangan iklan program tersebut.   Meskipun demikian, insiden penayangan pendet dalam program televisi mengenai Malaysia ini sempat memicu sentimen Anti-Malaysia di Indonesia.

Berikut ini keindahan tari yang sempat akan diklaim Malaysia (silahkan kalo ngga punya malu)

Gamelan Gong Kebyar

Gamelan gong kebyar sebagai seni musik tradisional Bali dalam sejarahnya yang ditulis babad bali, gong kebyar diperkirakan muncul di Singaraja pada tahun 1915.

Desa yang sebut-sebut sebagai asal pemunculan Gong Kebyar adalah Jagaraga (Buleleng) yang juga memulai tradisi Tari Kebyar.

Ada juga informasi lain yang menyebutkan bahwa Gong Kebyar muncul pertama kali di desa Bungkulan (Buleleng). Perkembangan Gong Kebyar mencapai salah satu puncaknya pada tahun 1925 dengan datangnya seorang penari Jauk yang bernama I Ketut Mario dari Tabanan yang menciptakan sebuah tari Kebyar Duduk atau Kebyar Trompong.

Perkembangan Gong Kebyar di Bali, seperti yang dikutip dalam catatan sukoco dalam blog http://etno06.wordpress.com terdapat tiga Gamelan kebyar yang berkembang di Bali yaitu :

  1. Gamelan kebyar yang bersumber dari Gong Gede,
  2. Bersumber dari gamelan palegongan.
  3. Murni buatan baru.

Yang pertama memiliki embat yang sesuai dengan embat gamelan gong gede yaitu agak rendah seperti yang banyak terdapat di Bali Utara. kelompok kedua menggunakan embat sama dengan embat gamelan palegongan (sumbernya) yaitu agak tinggi seperti yang sebagian besar terdapat di Bali bagian selatan, Gamelan-gamelan kebyar yang murni buatan baru sebagian besar ber-embat sedang seperti yang terdapat di berbagai daerah di Bali dan diluar Bali. Kenyataan ini menunjukan bahwa belum ada standarisasi embat untuk Gamelan kebyar di Bali.

Juga Dinamakan gong kebyar, menurut kutipan catatan blog ekadarmaputra dalam ISI Denpasar, Gong kebyar ditabuh untuk pertama kalinya menyebabkan terjadinya kekagetan yang luar biasa. Masyarakat menjadi tercengang dan ternak sapi yang sedang diikatkan di ladang dan di kandangnya terlepas dan lari tunggang langgang.

Disebutkan juga dalam catatan blog tersebut, gong kebyar merupakan tabuhan bersama dan serentak yang diikuti oleh hampir semua tungguhan pada perangkatnya kecuali tungguhan suling, kajar, rebab, kempul, bebende kemong, kajar dan terompong.

Bentuk kebyar merupakan salah satu bagian dari satu kesatuan gending yang letaknya bisa di depan, di tengah atau di bagian akhir. Jenis tabuhan kebyar ini sering digunakan pada iringan tarian maupun tabuh petegak (instrumental). Karena itu kebyar memiliki nuansa yang sangat dinamis, keras dengan satu harapan bahwa dengan kebyar tersebut mampu membangkitkan semangat.

Foto para penabuh gong kebyar 1928 dalam northbali.org

Struktur Gong Kebyar
Gong Kebyar merupakan salah satu perangkat/barungan gambelan Bali yang terdiri dari lima nada ( panca nada ) dengan laras pelog, tetapi tiap-tiap instrument terdiri sepuluh bilah.

Gong Kebyar bagi masyarakat Bali sudah tidak asing lagi, karena hampir seluruh desa maupun banjar yang ada di Bali memiliki satu perangkat/ barungan Gong Kebyar.

Oleh karenanya gong kebyar menjadi satu barungan gambelan tergolong baru jika dibandingkan dengan jenis-jenis gambelan yang ada saat ini seperti misalnya, gambelan Gambang, Gong Gde, Slonding, Semara Pegulingan dan masih banyak yang lainnya.

Barungan gong kebyar terdiri dari :

  • Dua buah (tungguh) pengugal/giying
  • Empat buah (tungguh) pemade/gansa
  • Empat buah (tungguh) kantilan
  • Dua buah (tungguh) jublag
  • Dua buah (tungguh) Penyacah
  • Dua buah (tungguh) jegoggan
  • Satu buah (tungguh) reong/riyong
  • Satu buah (tungguh) terompong
  • Satu pasang gong lanang wadon
  • Satu buah kempur
  • Satu buah kemong gantung
  • Satu buah bebende
  • Satu buah kempli
  • Satu buah (pangkon) ceng-ceng ricik
  • Satu pasang kendang lanang wadon
  • Satu buah kajar

Di Bali ada dua macam bentuk perangkat dan gaya utama gambelan gong kebyar yaitu gambelan gong kebyar Bali Utara dan gambelan gong kebyar Bali Selatan. Kedua gambelan gong kebyar ini perbedaannya terletak pada :

  • Tungguhan gangsa, Bali Utara bentuk bilah penjain dan dipacek sedangkan Bali Selatan menggunakan bentuk bilah kalorusuk dan digantung.
  • Gambelan Bali Utara kedengarannya lebih besar dari suara gambelan Bali Selatan, meskipun dalam patutan yang sama.

Dalam perkembangannya gong kebyar munculah istilah gaya Bali Utara dan gaya Bali Selatan, meskipun batasan istilah ini juga masih belum jelas. Sebagai gambaran daerah atau kabupaten yang termasuk daerah Bali Utara hanyalah Kabupaten Buleleng.

Sedangkan Kabupaten Badung, Tabanan, dan lain mengambil gaya Bali Selatan. Disamping itu penggunaan tungguhan gong kebyar di masing-masing daerah sebelumnya memang selalu berbeda karena disesuaikan dengan kebutuhan maupun fungsinya.

Fungsi Gong Kebyar
Sebagaimana kita ketahui lewat literatur dan rekaman telah tampak bahwa Gong Kebyar itu telah berfungsi sebagai pembaharu dan pelanjut tradisi. Sebagai pembaharu maksudnya adalah lewat gong kebyar para seniman kita telah berhasil menciptakan gending-geding baru yang lepas dari tradisi yang sudah ada.

Sedangkan sebagai pelanjut tradisi maksudnya adalah gong kebyar telah mampu mempertahankan eksistensi reporter gambelan lainnya melalui transformasi dan adaptasi.

Seperti apa yang telah diuraikan di atas bahwa gong kebyar memiliki fungsi untuk mengiringi tari kekebyaran. Namun sesuai dengan perkembangannya bahwa gong kebyar memiliki fungsi yang sangat banyak.

Hal ini dikarenakan gong kebyar memiliki keunikan yang tersendiri, sehingga ia mampu berfungsi untuk mengiringi berbagai bentuk tarian maupun gending-gending lelambatan, palegongan maupun jenis gending yang lainnya.

Disamping itu Gong Kebyar juga bisa dipergunakan sebagai salah satu penunjang pelaksanaan upacara agama seperti misalnya mengiringi tari sakral, maupun jenis tarian wali dan balih-balihan.

Karena gong kebyar memiliki multi fungsi maka gong kebyar menjadi sumber inspirasi karya baru. Dengan demikian Gong Kebyar telah berfungsi sebagai pembaharu dan pelanjut tradisi.

Sebagai pembaharu maksudnya adalah lewat Gong Kebyar para seniman kita telah berhasil menciptakan gending-gending baru yang lepas dari tradisi yang sudah ada.

Sedangkan sebagai pelanjut tradisi Gong Kebyar telah mampu mempertahankan eksistensi reporter gambelan lainnya melalui transformasi dan adaptasi. Misalnya dalam gending gong kebyar kita mengenai istilah gegambelan, gender wayang dan gong luang.

Juga disebutkan dengan menggunakan iringan gamelan gong kebyar, dalam sejarah drama klasik di Bali, maka drama tersebut berganti nama menjadi drama gong.dan sejak itulah banyak muncul sekaa-sekaa drama gong baru lainnya.

Berikut ini bisa anda nikmati keindahan alunan Gong Kebyar:

Angklung Bali

ngklung (dikenal sebagai Angklung Kelentungan) adalah suatu jenis alat musik tradisional yang terbuat dari empat kepingan logam, menghasilkan empat nada. Jenis gamelan seperti ini menghasilkan nada sedih, melankolis, dan lulling dinamis. Angklung merupakan bentuk gamelan tertua di Bali, berasal dari abad ke-10. Umumnya, Angklung dimainkan untuk mengiringi suatu upacara kremasi… dikutip dalam coretan kecil Agus Satriya Wibawa dalam artikel blog seni dan Budaya Kabupaten Karangasem Bali.

Untuk jenis musiknya, seperti yang dikutip dalam Babad Bali, Angklung memiliki jenis musik yang berlaras slendro, tergolong barungan madya yang dibentuk oleh instrumen berbilah dan pencon dari krawang, kadang-kadang ditambah angklung bambu kocok (yang berukuran kecil). Dibentuk oleh alat-alat gamelan yang relatif kecil dan ringan (sehingga mudah dimainkan sambil berprosesi).

Di Bali Selatan gamelan ini hanya mempergunakan 4 nada sedangkan di Bali Utara mempergunakan 5 nada.

Berdasarkan konteks penggunaaan gamelan ini, serta materi tabuh yang dibawakan angklung dapat dibedakan menjadi :

  1. Angklung klasik/ tradisional, dimainkan untuk mengiringi upacara (tanpa tari-tarian)
  2. Angklung kebyar, dimainkan untuk mengiringi pagelaran tari maupun drama.

Instrumentasi Gamelan angklung terdiri dari :

  1. Sepasang jegogan, jublag dan selebihnya pamade dan kantilan(6-8 pasang).
  2. Untuk Angklung Kebyar mempergunakan 12 pencon.
  3. 2 buah kendang kecil untuk angklung klasik dan kendang besar angklung kebyar.
  4. 1 buah kempur kecuali angklung kebyar mempergunakan gong.
  5. 1 buah tawa – tawa.

Di kalangan masyarakat luas gamelan ini dikenal sebagai pengiring upacara-upacara Pitra Yadnya (ngaben).

Berikut adalah link angklung Bali, simak dan nikmati pesonanya…

 

 

Antara Pedagang Kecil di Pasar Seni Sukawati Vs Supermarket

Pasar Seni Sukawati adalah salah satu alternatif tempat belanja yang murah dan lengkap di kabupaten Gianyar. Disana di jual berbagai macam kerajinan seperti patung-patung, lukisan, tas, dompet, payung, sandal dan berbagai macam barang kerajinan seni lainnya. Pasar seni Sukawati terletak di desa Sukawati Kecamatan Sukawati, Gianyar Bali sekitar 10 Km dari pusat Kota Denpasar.

Pasar ini menjual berbagai kerajinan seni khas Bali seperti sandal manik-manik, pakaian, tas, lukisan, patung kayu dan lain – lain.  Pasar ini berdiri sekitar tahun 1980an dan dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga pukul 18.00 WITA.  Dipasar ini kita bisa melakukan transaksi selayaknya pasar, dimana tawar menawar harga akan terjadi dan pembeli harus pandai untuk memberikan harga tawaran yang serendah mungkin.  Dan seringkali proses tawar menawar ini menjadi sangat menarik bagi wisatawan asing maupun lokal yang menyaksikannya.

Permasalahan terjadi ketika ternyata memang banyak para pedagang acung/ atau pedagang asongan yang menawarkan barang dagangannya dengan tidak tertib dan terkesan memaksakan.  Mereka biasanya berada diluar lingkup asosiasi pedagang yang resmi di Pasar Seni Sukawati.  Mereka bisa sangat mengganggu dengan mengikuti para pembeli yang mungkin sekedar melirik saja.  Hal ini tentu saja menjadi masalah yang sangat mengganggu kenyamanan para pembeli.  Terkadang penertiban oleh pemerintah daerah terkesan seadanya tanpa mampu mencegah keberadaan pedagang acung ini.

Sementara itu banyak bermunculan toko bahkan supermarket yang menjual barang kerajinan khas Bali yang bermunculan di dalam kota Denpasar dan Badung.  Mereka menawarkan konsep berbelanja dengan self service dimana pembeli tinggal memilih barang yang dipajang dengan harga pas dan lansung membayar dikasir.  Begitu mudah dengan sistem belanja satu tempat dimana pihak supermarket menyediakan segala jenis barang kerajinan pada satu tempat.  Konsep ini mampu meraup keuntungan yang sangat besar terbukti bahwa jenis Supermarket ini begitu menjamur dengan posisi yang sangat berdekatan di beberapa areal pariwisata seperti daerah Kuta dan Legian.

Keberadaan Supermarket ini tentunya akan menjadi masalah bagi pasar-pasar seni tradisional di Sukawati dan beberapa lainnya. Bagikan hidup segan mati tak mau. Pepatah usang itu tampaknya sangat tepat untuk menggambarkan kesulitan hidup yang membelit para pedagang yang mengais rezeki di Pasar Sukawati dan beberapa pasar tradisional lainnya. Komunitas pedagang di pasar seni yang lokasinya berhadapan dengan Pasar Badung ini tidak hanya sebatas mengeluh, tetapi sudah menjerit karena selama bertahun-tahun mengalami ”paceklik” pembeli.
Mereka menuding serbuan pasar oleh-oleh yang tumbuh bak jamur di musim hujan menjadi faktor utama yang membuat sumber pendapatan mereka terguncang. Di satu sisi, belum ada langkah nyata dari para pengambil kebijakan di Bali untuk menghentikan ekspansi para pemilik modal besar yang makin menggurita tersebut kendati sudah nyata-nyata mendorong para pedagang kecil ke jurang kebangkrutan. Jika pemimpin Bali tidak cepat bertindak dengan mengeluarkan regulasi yang benar-benar berpihak kepada pedagang kecil, bisa dipastikan eksistensi pasar seni yang sebenarnya sempat jadi ikon Bali akan tinggal nama.

Apakah pasar seni tradisional seperti Sukawati, Guwang, Kumbasari akan menghilang dari Bali, tergeser oleh keberadaan Supermarket Besar yang mengusung konsep praktis.  Tentunya dengan hati nurani kita bisa menilai betapa banyak rakyat kecil yang akan kehilangan lapangan pekerjaan di tanah Bali ini.

Setya Budhi

Kemacetan di Bali

Tidak hanya di Jakarta, kini Bali juga macet parah. Bertambahnya jumlah kendaraan di kawasan terpadat Denpasar dan Badung terutama di kawasan Kuta sebagai andalan pariwisata Bali,  dianggap sebagai biang keladi dari kemacetan.

Menurut Gubernur Provinsi Bali Made Mangku Pastika, pertumbuhan ekonomi di dua kota penopang perekonomian Bali tersebut tidak diiringi dengan perkembangan infrastruktur jalan.

Dalam setiap tahunnya, jumlah kendaran yang melalui simpang Dewaruci mencapai 74.625 unit per hari, dengan dominasi kendaraan roda dua. Persimpangan ini terletak di Kabupaten Badung yang menghubungkan area wisata ternama di Bali, yaitu Kuta, Seminyak, Nusa Dua, dan Bandar Udara Ngurah Rai.

Kemacetan akut bukan hanya menjadi permasalahan Jakarta, tapi juga Bali, destinasi wisata unggulan Indonesia yang namanya termahsyur di dunia. Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, bahkan memprediksi tak lama lagi lalu lintas Pulau Dewata tak bisa bergerak.

“Saya prediksi 2015 Bali sudah macet total. Ini harus segera dipecahkan. Dan, Pemprov Bali sudah melakukan koordinasi ke pusat membicarakan masalah ini,” kata Gamawan di Kantor Gubernur Bali, Senin 2 Juli 2012.

Gamawan lantas mencontohkan beberapa titik macet di Bali. Salah satunya jalan sekitar Bandara Ngurah Rai. “Perjalanan dari Bandara Ngurah Rai menuju Denpasar yang biasanya bisa ditempuh hanya setengah jam saja, lantaran macet parah itu, bisa mencapai 1,5 jam,” kata dia.

Juga kemacetan parah di depan pusat pusat produsen kaos ternama asal Bali. Akibat banyaknya bus yang parkir di pinggir jalan. “Jumlahnya bisa mencapai 80 unit. Ini juga macetnya minta ampun,” ujar Gamawan.

Sebagai Mendagri, Gamawan bersama menteri terkait lainnya mengaku ikut memikirkan persoalan Bali, terutama masalah infrastruktur. Ini sudah menjadi isu nasional. “Mudah-mudahan solusinya bisa kita pecahkan bersama,” tukas Gamawan.

Ia mengaku dalam beberapa rapat kabinet terbatas, Gubenur Bali, Made Mangku Pastika, secara khusus sengaja diundang untuk menjelaskan berbagai hal soal Bali. Dan, salah satunya adalah soal kemacetan. Penjelasan ini mendapat respon dari pemerintah pusat. Diharapkan dalam beberapa tahun ke depan, kemacetan di Bali segera teratasi dengan perbaikan infrastruktur yang memadai.

Masalah macet di Bali sebelumnya pernah diulas dalam artikel Majalah Time yang menghebohkan. Time menyebut berlibur di Bali seperti di neraka. Sampah menggunung, limbah yang mencemari pantai, dan lalu lintasnya sama semrawutnya dengan Jakarta.

“Kalau kita tidak selesaikan masalah ini (kemacetan), kita akan kehilangan investor, banyak tamu yang akan pergi sehingga tidak ada return invesment. Kemacetan ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi Bali secara tidak langsung. Lama-lama Bali akan banyak kehilangan invesment dan turis. Nilai plus untuk Bali juga akan berkurang jika masalah ini tidak segera diatasi,” ujar pria yang sudah 7 tahun tinggal di Bali ini.

Terkait hal ini, Ketua Aliansi Masyarakat Pariwisata Bali (AMPB) Gusti Kade Sutawa menyatakan, persoalan kemacetan di Bali khususnya Kuta dan sekitarnya merupakan masalah klasik yang harus segera diatasi.

“Selain mengurangi jumlah kendaraan di jalan dan memperbaiki sistem transportasi publik, pemerintah juga perlu membangun infrastuktur yang memadai, seperti jalan tol atau jalan bawah tanah di kawasan yang macet tersebut. Keluhan terkait jalan macet sudah banyak sekali, kalau itu tidak bisa segera diperbaiki citra Bali akan terus menurun. Jadi mari percepat pembangunan kontruksi jalan tol di atas perairan dan juga jalan underpass, itu akan bisa cepat mengurai kemacetan,” paparnya.

Untuk mengatasi persoalan kemacetan lalu lintas yang semakin parah ini, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) VIII Ir Susalit Alius CES menyatakan pihaknya akan segera membangun jalan bawah tanah atau underpass di sekitar simpang Dewa Ruci Kuta. Proyek jalan bawah tanah pertama di Bali yang menelan biaya Rp 179 milyar ini akan dikerjakan mulai akhir tahun ini selama 18 bulan.

Panjang jalan bawah tanah direncanakan mencapai 800 meter, dengan lebar 18 meter, dan tinggi 5,2 meter. Jalan bawah tanah ini nantinya akan berada persis di tengah-tengah jalan “by pass” Ngurah Rai yang ada saat ini.

“Selama pengerjaan proyek underpass, pasti pengguna jalan akan sedikit terganggu. Kami berharap warga masyarakat yang melintas di jalan tersebut untuk memaklumi karena proyek ini dibangun untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di wilayah tersebut, disamping untuk kepentingan pelaksanaan KTT APEC

Marilah kita berharap bahwa hal ini bisa menjadi solusi terhadap kemacetan di Bali, sebab hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Bali di masa depan.  Disisi lain juga perlu dikembangkan sarana transportasi umum yang mampu secara massal menjangkau kawasan-kawasan wisata di Bali untuk megurangi kemacetan seperti saat ini.

 

 

 

Pro Kontra Aturan Batas Tinggi Bangunan di Bali Part 3

BALI AKAN SIRNA

Sungguh sangat disayangkan apabila undang-undang tentang bangunan di Bali harus dikaji ulang menjadi undang-undang baru yang membolehkan tinggi bangunan di Bali di atas 15 meter. Apa Bali mau dijadikan kota metropolitan dengan bangunannya yang menjulang tinggi seperti di kota-kota besar? Hal ini sama saja dengan merusak citra Bali secara perlahan namun pasti.

Kebijakan tersebut merupakan kebijakan yang sungguh menginjak-injak keajegan Bali. Tanah memang tersisa, namun makna tanah itu lama-kelamaan akan sirna. Yang akan menjadi perhatian adalah deretan bangunan mewah dengan daya pikatnya yang mematikan komponen ketradisionalan Bali, menyirnakan budaya Bali yang berlandaskan Tri Hita Karana.

Apabila desas-desus adanya undang-undang yang membolehkan bangunan dengan ketinggian di atas 15 meter diriilkan, citra Bali akan rusak. Bukankah Bali akan sama jadinya seperti negara-negara dengan panorama gedung bertingkat seperti Jepang? Akan sama dengan negara berkembang yang hampir di setiap kawasannya terdapat bangunan dengan tinggi di atas 15 meter. Bali akan dipenuhi dengan penuh sesak bangunan yang tinggi menjulang dan kemungkinan besar akan dikelola oleh investor asing. Jika hal ini dibiarkan begitu saja, kita sama saja dengan menjual Bali kepada investor asing. Lama-kelamaan budaya Bali akan luntur dengan keberadaan bangunan menjulang tinggi hasil pengelolaan investor asing. Investor asing tak tahu pasti seluk-beluk budaya kita, bukan? Tentu ini berdampak Bali kehilangan citra di mata dunia karena budaya Bali tak akan dengan mudah dipakai oleh investor asing dalam pemutusan pembuatan bangunan menjulang tinggi.

Kita semuai harusnya mengambil tindakan tegas secara cepat dan tepat agar undang-undang tersebut tak cepat disahkan. Tindakan tegas itu bisa berupa protes langsung kepada pemerintah atau sebelumnya mengadakan suatu diskusi terbuka dengan pembuat undang-undang tersebut. Jika jalan tersebut tidak menemukan suatu titik temu, maka segenap komponen masyarakat yang cinta akan budaya Bali harus mengupayakan agar peraturan yang terlihat bijak namun menginjak budaya tersebut tidak direalisasikan.

Pro Kontra Aturan Batas Tinggi Bangunan di Bali Part 2

USULAN PENAMBAHAN TINGGI BANGUNAN DI BALI

Lima belas adalah angka keramat bagi para budayawan, akademisi, pengamat, media, dan pengambil kebijakan di Bali.

Sejak awal 1970-an ketinggian bangunan baru di Bali dibatasi maksimal 15 meter, atau 4 lantai, atau “tidak lebih tinggi daripada pohon kelapa”. Aturan berdasarkan rekomendasi dari lembaga konsultan dari Perancis, SCETO. Hanya Hotel Grand Bali Beach di Sanur punya 10 lantai. Hotel ini dibangun mulai tahun 1966.

Kebijakan ini masih bertahan hingga sekarang. Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (Perda RTRW) Bali 2009-20291 masih mempertahankan pembatasan 15 meter ini.  Pasal 95, ayat 2, butir b Perda ini menyatakan ketinggian bangunan di atas permukaan bumi dibatasi maksimum 15 (lima belas) meter. Aturan ini tak berlaku untuk bangunan umum dan bangunan khusus yang memerlukan persyaratan ketinggian lebih dari 15 meter. Misalnya, menara pemancar, tiang listrik tegangan tinggi, mercusuar, menara-menara bangunan keagamaan, dan bangunan-bangunan untuk keselamatan penerbangan.

Butir ini pula yang menjadi salah satu yang dibahas dengan sengit dalam perdebatan di berbagai media mengenai rencana revisi Perda RTRW. Isu terpanas lainnya adalah mengenai luas dan aturan pemanfaatan sempadan kawasan suci pura dan pantai.

Pihak pro-pembatasan 15 meter berasalan kuat. Menurut mereka pembatasan masih tetap relevan untuk menjaga ciri khas Bali dan pelaksanaan Tri Hita Karana. Aturan ini pun selaras dengan konsep pariwisata budaya Bali.

Pihak pro-revisi beralasan pembatasan akan berakibat buruk terhadap lahan pertanian Bali yang kian sempit. Pertumbuhan penduduk Bali yang relatif cepat menuntut perluasan wilayah pemukiman.

Kedua belah pihak memiliki argumen kuat. Keduanya sama-sama memiliki keinginan memajukan Bali tanpa mengorbankan nilai-nilai estetika Bali.

Konsep pembatasan tinggi bangunan bukanlah fenomena unik yang hanya terjadi di Bali. Greenwich Village Historic District di New York menerapkan pembatasan tinggi bangunan maksimal 12 lantai. Pusat kota Paris pun menerapkan batas maksimal 83 feet (25 meter). Kedua kota tersebut masih menerapkannya hingga sekarang.

Tidak kalah dengan kota-kota di negara maju, kota Mumbai di India pun menerapkan batasan tinggi bangunan, lebih ekstrim lagi, 1.3 lantai. Artinya, sejak 1991, tidak ada lagi bangunan baru dengan tinggi 2 lantai atau lebih di Mumbai.

Semua pembatasan tersebut didasari semangat konservasi bangunan-bangunan atau lanskap kota yang bernilai sejarah. Semangat ini kurang lebih sama dengan semangat masyarakat Bali sejak tahun 1970-an.

Kebijakan pembatasan tinggi bangunan umumnya memiliki beberapa konsekuensi negatif. Pertama, lonjakan harga tanah karena terbatasnya lahan pemukiman. Gejala mahalnya harga tanah sudah dapat dirasakan di Bali. Pada tahun 2011 saja, rata-rata kenaikan harga tanah kaveling mencapai 34 persen dalam setahun, dengan ekspektasi kenaikan harga tidak kurang dari 20 persen sepanjang 2012.

Harga tanah di kawasan Sanur sudah mencapai lebih dari Rp 300 juta per are (100 meter persegi). Harga ini naik lebih dari 30 persen per tahun selama lima tahun terakhir. Nilai ini setara dengan harga tanah di perumahan elit Jakarta seperti Bintaro atau Bumi Serpong Damai.

Tingginya harga tanah, tanpa disertai peningkatan pendapatan setara rata-rata masyarakat Bali, merupakan salah satu faktor maraknya penjualan tanah terhadap “investor” dari luar Bali. Para investor ini, kebanyakan berbekal pendapatan dari booming harga komoditas batubara dan kelapa sawit. Mereka menyasar Bali sebagai alternatif investasi properti potensial di luar Jakarta.

Mahalnya harga tanah dan arus urbanisasi dari luar kota Denpasar maupun dari luar Bali juga diprediksi akan menyebabkan timbulnya daerah kumuh (slum). Hal ini karena perumahan memadai sudah tidak terjangkau lagi harganya. Menurut Bali Post, itik pemukiman kumuh di Denpasar sudah menyebar di 70 lokasi.

Konsekuensi lain selain tingginya harga tanah adalah naiknya kepadatan lalu lintas. Pembatasan tinggi bangunan menyebabkan pembangunan lebih bersifat ke samping (horisontal) dan tidak ke atas (vertikal). Kota menjadi lebih luas. Setiap orang menjadi butuh kendaraan untuk pergi bekerja ataupun melakukan aktivitas lain. Pembangunan sarana transportasi massal pun lebih sulit dan mahal karena persebaran daerah pemukiman penduduk dan perkantoran.

Masyarakat pun cenderung memilih kendaraan pribadi daripada kendaraan umum. Transportasi publik tidak memiliki rute langsung dari daerah pemukimannya ke area tempat kerjanya. Kemacetan lalu lintas pun tak terhindarkan. Kenaikan jumlah kendaraan rata-rata 6 persen per tahun sejak 2005, sedangkan panjang jalan hanya tumbuh rata-rata 2,2 persen per tahun.

Masalah pembatasan tinggi bangunan sebaiknya tidak dilihat sebagai sebuah isu dikotomis. Angka “15” pun bukan angka sakral. Angka ini instrumen yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai sasaran.. Apakah Bali bisa mempertahankan pariwisata budaya dan Tri Hita Karana saat kota Denpasar dan Kuta dikepung daerah kumuh dan kemacetan?

Saat ini pun, aturan pembatasan tinggi bangunan 15 meter tidak dapat mencegah bertebarannya rumah-toko (ruko) dan model bangunan yang tidak berciri khas Bali sama sekali.

Beberapa alternatif jalan tengah sudah diajukan berbagai pihak. Misalnya pemberian izin bangunan tinggi untuk bangunan publik seperti kantor pemerintah, rumah sakit, dan sekolah. Ada juga yang mengusulkan pemberian izin khusus untuk daerah-daerah tertentu seperti daerah bisnis di Jalan Gatot Subroto.

Apa pun usulan yang akhirnya diterima dan dimasukkan dalam Perda RTRW, jika memang aturan 15 meter ini akan direvisi, maka ada dua hal yang perlu dipastikan: aturan main yang lebih spesifik dan transparansi.

Pertama-tama perlu dibuat satu tata aturan khusus untuk bangunan lebih dari 4 lantai, kalau di luar negeri disebut building code. Aturan ini memastikan setiap gedung tinggi yang dibangun harus memerhatikan aspek keselamatan, aspek keserasian dengan lingkungan sekitar, aspek estetika, dan aspek integrasi dengan budaya Bali. Perda No 5 Tahun 2005 tentang Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung, yang saat ini lebih banyak mengatur tentang corak penampilan arsitektur Bali, perlu disempurnakan dan diperinci.

Kita juga harus memastikan bahwa setiap proposal bangunan lebih dari 4 lantai harus melewati proses dengar pendapat publik dan. Proposal pun harus dinilai komisi khusus yang menangani bidang tata ruang. Proposal ini juga harus bisa diunduh dan dikomentari semua orang melalui Internet. Dengan proses ini, tidak sembarangan gedung tinggi bisa dibangun hanya dengan modal finansial kuat saja.

Di beberapa kota di luar negeri, detail dari rencana pembangunan gedung bisa diunduh dari website kota tersebut. Sebagai contoh adalah website Florida Building, di mana kita bisa mengunduh project plan dari gedung mana pun di Florida.

Liputan demi liputan di media mengenai revisi RTRW merupakan bukti bahwa masyarakat Bali sangat peduli tata ruang pulaunya. Rencana tata ruang memang akan berdampak kepada tidak hanya generasi sekarang, tapi juga generasi anak dan cucu kita. Mereka yang akan mewarisi pulau ini.

Dengan kebijakan dari para pemimpin dan wakil rakyat, serta transparansi dan aturan main yang jelas, mudah-mudahan tidak ada lagi kekhawatiran dari masyarakat akan hilangnya ciri khas Bali. Kesemrawutan serta kemacetan total pun bisa dihindarkan.

Pro Kontra Aturan Batas Tinggi Bangunan di Bali Part 1

    Dalam Perda RTRW Prov. Bali, Ketinggian bangunan tidak boleh melebihi 15 meter, atau melebihi ketinggian pohon kelapa.  Mengapa pohon kelapa? Kenapa tidak pohon lain seperti pohon bambu, duren, beringin atau pohon gaharu?. Dan apa pula yang menjadi pemikiran para bijak pencetusnya?

Tanpa bermaksud mendahului, apalagi menggurui, saya coba renungkan dengan sembarang. Pohon kelapa adalah salah satu pohon yang multi guna. Mulai dari akar, batang, buah, daun, hingga lidinya, bermanfaat bagi kehidupan manusia. Pohon kelapa mungkin salah satu pohon yang berdampak luas bagi kehidupan. Sebut saja, mulai dari makanan khas Indonesia menggunakan santan sebagai campurannya. Halaman rumah dan jalanan menjadi bersih karena ada sapu lidi. Rumah tradisional tahan gempa juga terbuat dari batang pohon kelapa. Bahkan, pedagang juga hidup menjual es kelapa muda. Akar kelapa dipahat menjadi kerajinan cantik yang mahal. Jutaan ketupat pun dibuat, menggunakan dauh kelapa.

Pohon kelapa benar-benar lekat dengan hidup dan kehidupan manusia. Manusia yang hidup pasti butuh kelapa, dan kelapa yang hidup bisa menghidupi manusia. Hubungan yang sangat harmonis, hubungan yang menciptakan kesadaran bahwa; “Hidup berasal dari Kehidupan”. Yang kemudian membuat manusia menjadi santun, adab, bijak, dengan semua kehidupan. “Tanpa ketamakan, tanpa kerakusan?” Saya tidak tahu apakah istilah ini setara dengan “Keadilan” dan ‘Kedaulatan yang bermartabat? Yang jelas, pohon kelapa benar-benar pohon yang memiliki aspek sosial, ekonomi dan juga industri di seluruh bumi nusantara.

Kini di Bali, pohon kelapa dan bangunan, jika di renungkan lebih jauh ternyata melahirkan dua kutub pemikiran, kearifan dan juga kekuasaan, saling berhadap-hadapan. Dibatasinya ketingian bangunan (gedung) di Bali maksimal 15 meter atau tidak melebihi pohon kelapa, ternyata tersurat dan tersirat bahwa; manusia Bali harus menyadari akan batas-batas (Terukur), mana yang boleh dan tidak boleh (aturan main/awig-awig), relasi hidup dan kehidupan manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Sang Pencipta (Tri Hita Karana).  Setiap pembangunan  harus merujuk pada batas-batas diri atau tubuh (Angga). Tubuh yang lain (Makrokosmos) juga disebut buana, bumi, tanah, atau ibu pertiwi. Diri manusia dan tanah harus selaras, seiring sejalan, saling hidup menghidupi. Makanya masyarakat adat Bali tidak bisa lepas dari tanah, tanah yang melahirkan asal usul. Lupa akan asal usul sama dengan lupa diri, lupa dengan segalanya dan seterusnya.

Jadi mengenal spirit pohon kelapa, membantu manusia adat Bali mengenal hidup, mengenal kemampuan diri untuk mengelola hak-hak atas tanah. Budaya yang menjadikan pulau Bali sebagai pulau sosial, ekonomi dan industri yang berjalan seimbang dan bermartabat. Toh juga apa yang ada sekarang ini,  Bali sudah disebut “Pulau Sorga” dalam panji-panji pariwisata yang mendunia. Pariwisata budaya, yang menghidupi jutaan tenaga kerja  dan menarik jutaan wisatawan. Masih belum cukupkah itu?

Jadi, sesunguhnya, konsep kesejahteraan masyarakat adat Bali bukanlah berapa pertumbuhan PDRB, bukan juga berapa besar GNP, dan bukan berapa besar UMR, dan bukan berapa persen angka-angka pertumbuhan ekonomi, seperti indikator kemiskinan “Impor” yang dipakai selama ini, yang ujung-ujungnya utang luar negeri.
Konsep kesejahteraan bagi masyarakat adat di Bali adalah “kedamaian buat semua makhluk di muka bumi”, kesetaraan, pemerataan, dan keadilan lahir batin. Walaupun ada beberapa perkembangan  pembangunan dan inovasi teknologi, perubahan tetap memungkinkan dilakukan, sepanjang motif dan tujuannya (Visi dan Misi) tetap sejalan dengan spirit dan kesadaran kearifan di atas.

Dan apa yang terjadi jika batas ketinggian bangunan 15 meter di langgar ? benarkan akan menimbulkan persoalan? Sebagai contoh : bangunan pencakar langit. Jika itu adalah apartemen pasti kebanyakan orang Bali tidak sanggup membelinya, Jika perncakar langit itu dihuni oleh rimbuan orang, maka akan dibutuhkan rimbuan liter air. Akan dibutuhkan banyak sekolah tambahan, rumah sakit, pertokoan, transportasi public, jalan raya, arela parker, penegakan hukum dan seterusnya. Jika gedung pencakar langit itu adalah hotel bintang lima, bukankan Bali sudah kelebihan 9.000 lebih kamar hotel berbintang yang tidak laku? Data menunjukan, untuk merawat satu kamar hotel berbintang, rata-rata  membutuhkan 2000-3000 liter air per hari, untuk MCK, Kebun, Kolam renang, laundry, dan lain sebagainya (Walhi Bali, 2008).

Bali sudah kekurangan air, baik “air sumber” dan “air baku”? Sementara air tanah, pajaknya begitu tinggi? Petani sawah pun tidak dapat air irigasi, lahan pertanian produktif terus menyempit, ketahanan pangan benar-benar menjadi tantangan. Beban daya listrik pun sering menjadi persoalan. Kriminalitas pun berlomba di koran-koran. Dan jika ketinggian bangunan ini dipaksakan, “kekuasaan” dari manakah yang mencekokinya? Bukankah rakyat dan masyarakat adat Bali jelas-jelas menolaknya? Kekuasaan yang melampoi kesadaran, kekuasaan yang membingungkan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.